Dark/Light Mode

Teologi Lingkungan Hidup (65), Pandangan Kosmologi Islam (2)

Antara Langit (Celestial) dan Bumi (Terrestrial)

Jumat, 24 November 2023 05:39 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Atas keistimewaannya itu, maka Allah SWT menun­juk manusia sebagai khalifah di bumi: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalaif) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas seba­hagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (Q.S. al-An’am/6:165).

Dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai khalifah, Allah SWT menundukkan alam semesta terhadapnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manu­sia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. al-Jatsiyah/51:56).

Baca juga : Pandangan Kosmologi Islam (1) Hakekat Lingkungan Hidup Menurut Al-Quran

Meskipun manusia ditunjuk sebagai khalifah dan alam semesta ditundukkan kepadanya, manusia tetap sebagai hamba, yang harus tunduk dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. al-Dzariyat/51:56).

Kapasitas ganda manusia sebagai khalifah sekaligus sebagai hamba merupakah amanah yang amat besar. Makhluk lain seolah tidak sanggup mengembang amanah itu, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan meng­khianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. (Q.S. al-Ahdzab/33:72).

Baca juga : Belajar dari Kosmologi Kristen (1)

Dalam menjalankan kapasitas ganda manusia itu, maka Allah SWT memberikan ”buku manual gnda”, berupa hukum alam (hukum takwini/natural law) dan hukum syari’ah (hukum tasyri’i/syari’ah law). Makhluk lain hanya tunduk dan taat kepada hukum alam tetapi manusia harus tunduk dan patuh terhadap kedua sistem hukum tersebut jika ingin sukses menjalani kehidupannya.

Ma­nusia tidak boleh berat sebelah apalagi meninggalkan dua-duanya. Jika hal itu terjadi maka akan berpengaruh terhadap keseimbangan hubungan dengan alam semesta sebagai makrokosmos (al-’alam al-kabir) dan manusia sebagai mikrokosmos (al-’alam al-shagir).

Baca juga : Belajar Dari Kosmologi Khonghucu (2)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Jum'at, 23 November 2023 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup (65), Pandangan Kosmologi Islam (2), Antara Langit (Celestial) dan Bumi (Terrestrial)"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.