Dark/Light Mode
Teologi Lingkungan Hidup (67), Pandangan Kosmologi Islam (4)
Doktrin Trilogi: Antara Tajalli dan Pantheisme
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Tajalli adalah sebuah faham yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi () yang menganggap alam semesta ini adalah pancaran atau manifestasi Tuhan. Alam semesta ini sesungguhnya bukan entitas tersendiri yang terpisah dengan Tuhan. Alam semesta ini sesungguhnya antara ada dan tiada, agak mirip tetapi tidak persis sama dengan istilah “maya” dalam kosmologi Hindu.
Alam ini menurut kalangan umat Hindu disebut alam maya karena keberadaannya seperti semu. Mirip dengan logika berfikir filosof Yunani, yang menganggap alam ini sebagai kumpulan-kumpulan atom menurut
Democritos, dan atom ini bersymber dari air menurut Thales, dan air bersumber dari uap menurut Anaximandes, dan setelah uap menguap maka menjadi hilang, tidak ada lagi.
Baca juga : Doktrin Trilogi: Alam, Manusia, dan Tuhan
Jadi alam semesta ini maya atau semu. Ibn Arabi menganggap ala mini sebagai wujd nisbi (mumkin al-wujud) karena hakekat keberadaan hanya Allah SWT sebagai wujud Mutlaq (wajib al-wujud).
Keberadaan alam lebih merupakan efek dari keberadaan Tuhan sebagai The Real Existance (al-Haq) dan alam itu sendiri adalah bayangan (alkhalq) dari Tuhan.
Keberadaan alam mirip keberadaan bayangan tongkat, panasnya api, gelombangnya laut, dinginnya es, cahayanya matahari, dan bayangan kita di depan cermin.
Baca juga : Antara Langit (Celestial) dan Bumi (Terrestrial)
Bayangan tongkat bukan buatannya tongkat tetapi efek keberadaan tongkat. Gelombang bukan ciptaannya laut tetapi efek keberadaan laut yang ditiup angin . Panas bukan ciptaannya api tetapi efek keberadaan apai. Dingin bukan ciptaannya es tetapi efek keberadaan es. Cahaya bukan ciptaan matahari tetapi efeknya matahari. Bayangan kita di cermin bukan lukisan kita tetapi efek kita berdiri di depan cermin.
Dengan demikian, Tuhan lebih tepat disebut sebagai al-Haq (The Real One), bukan Al- Khaliq. Sedangkan alam lebih tepat disebut al-khalq, bukan makhluk.
Pantheisme berasal dari bahasa Yunani pan (semua, segala sesuatu) dan theos (Dewa, Tuhan”). Faham Pantheisme diciptakan oleh matematikawan Joseph Raphson (1697) kemudian dikembangkan oleh filosof berikutnya seperti Baruch Spinoza dan Giordano Bruno.
Baca juga : Pandangan Kosmologi Islam (1) Hakekat Lingkungan Hidup Menurut Al-Quran
Faham ini kemudian berkembang di lingkungan penganut berbagai agama di Asia Timur, seperti dalam agama Sikh, Hindu, Sanamahisme, Konfusianisme, Taoisme, dan juga dielaborasi di kalangan pemikir tasawuf dalam Islam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.