Dark/Light Mode

Jokowi Membuat Terobosan Dalam Kabinet Baru

Kamis, 24 Oktober 2019 07:10 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Hal yang sama juga “menimpa” Tjahjo Kumolo. Dua minggu sebelum Jokowi menyusun kabinet barunya, Tjahjo sudah berpisah di sana-sini, memberikan kesan bahwa ia diberikan tugas oleh ibu Megawati Soekarnoputri untuk mengurus PDIP. Ternyata, pada menit menit terakhir, Tjahjo juga dipanggil Presiden dan dipercayakan mengemban tugas sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur negara (Menpan), menggantikan Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Syafruddin. Hal ini juga mengejutkan banyak pihak, termasuk kalangan internal Kemenpan. Tiga minggu yang lalu, kami selaku anggota tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional (TI RBN) menghadiri acara pelantikan Komisioner KASN di kantor Kemenpan. Kami bertemu, bahkan sempat diskusi ringan dengan Pak Syaf. Internal Kemenpan, umumnya, yakin Pak Syaf akan lanjut menjalankan tugas sebagai Menpan.

Sebuah terobosan, sekaligus mengejutkan, dilakukan Jokowi dengan mengangkat Jenderal TNI (purn) Fahrul Razi, terakhir menjabat Wakil Pangab di era Soeharto, sebagai Menteri Agama, posisi yang hampir selalu diisi oleh tokoh dari NU. Kenapa pensiunan Jenderal TNI didudukkan di kursi Menteri Agama? Kabarnya, Sang Jenderal diberikan misi khusus untuk menjinakkan gerakan radikalisasi bersama Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri.

Baca juga : Amandemen UUD 1945, Untuk Apa?

Yang juga mengejutkan adalah penunjukan Nadiem Makarim yang baru berusia 35 tahun sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga Dikti. Nadiem selama ini identik dengan “Mr. Gojek”, seorang yang inovatif, ahli bisnis digital dan pengusaha sukses. Ayahnya, Nono Anwar Makarim, seorang aktivis, Pemimpin Redaksi pertama harian “Kami” yang terbit tidak lama setelah pecah tragedi G30S/ PKI pada 1965. Apakah Nadiem Makarim mampu mengemban tugas sebagai Mendikbud? itu pertanyaan yang banyak bermunculan di publik. Tentu saja, dia sempat mengecap pendidikan di beberapa Universitas top di dunia, seperti Harvard dan London School of Economic. Tapi yang mengejutkan adalah keberanian Jokowi menerobos tradisi, yaitu Mendikbud seolah-olah sudah menjadi kavling Muhammadiyah.

Ketika Presiden Jokowi menerima kunjungan Presiden RI ke-6, SBY di istana disusul oleh pernyataan SBY bahwa Partai Demokrat pimpinannya bergabung dengan koalisi Jokowi, publik percaya Jokowi bakal memberikan satu kursi kabinet kepada Demokrat. Dan yang bakal duduk mewakili Demokrat adalah AHY, kata Syarief Hasan, pimpinan Partai Demokrat. Lagi-lagi spekulasi ini, ternyata, meleset. Kita tidak tahu apa sebab Presiden Jokowi akhirnya membatalkan rencana merangkul Partai Demokrat.

Baca juga : Berkaca Pada Kabinet Periode I

Sementara itu, spekulasi Partai Amanat Nasional juga bakal merapat ke pemerintah dengan mendapat 1 (satu) kursi kabinet tidak menjadi kenyataan. Dengan demikian, PAN tetap di luar pemerintah.

Tentang Partai Gerindra, setelah “Pertemuan Puncak” antara Jokowi dan Prabowo Subianto di kereta MRT yang dilanjutkan dengan makan siang bersama, publik telah menerka-nerka bahwa Jokowi akan merangkul Gerindra. Meski menuai banyak kritik-termasuk dari Surya Paloh yang setengah mengancam hendak menjadi oposisi jika semua kekuatan lawan ramai-ramai bergabung dalam kubu pemerintah, toh Jokowi tetap pada pendiriannya, yaitu merangkul Gerindra, mungkin untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca juga : Jokowi Di Antara Banyak Pilihan

Apakah Kabinet indonesia Maju mampu menoreh kinerja yang cemerlang dan memajukan bangsa kita, terutama dari aspek perekonomian, waktu juga yang akan membuktikannya. Tentu, masyarakat harus memberikan kesempatan kepada kabinet untuk bekerja dan bekerja. berhasil atau gagalnya kabinet, Presiden Jokowi juga yang harus menanggungnya. Mudah-mudahan tidak seperti kabinet sebelumnya yang hanya dalam tempo 10 bulan harus mengalami perombakan dengan rontoknya 5 (lima) menteri waktu itu. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.