Dark/Light Mode

Living Qur`an (19)

Allah: A God Dan The God (3)

Minggu, 31 Maret 2024 06:00 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Dalam suatu hadis juga disebut­kan: Takhallaqu bi akhlaq Allah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT). Ini menunjukkan adanya keserupaan dengan Allah dan makhluk dari segi sifat. Jika Allah Maha Kreatif (al-Khaliq), Maha Pemaaf (al-‘Afuw), dan Maha Sabar (al-Shabur) maka implementasinya manusia juga harus memaksimalkan meniru sifat Tuhan, yaitu menjadi makhluk yang kreatif, pemaaf, dan penyabar.

Ayat-ayat dan hadis di atas mengisyaratkan bahwa antara Tuhan dan hambanya lebih tepat dikatakan memiliki hubungan yang immanent.

Baca juga : Allah: A God Dan The God (2)

Para sufi lebih ter­tarik mendekati Tuhan melalui jalur immanent, berbeda dengan teolog yang membayangkan Tuhan sebagai sesuatu yang  transendent. Kalangan sufi merasa didukung oleh kenyataan bahwa ayat demi ayat Al-Qur’an lebih menonjolkan aspek immnent, feminitas, kelembutan, kasih-sayang, dan jamaliah-Nya. Dengan lebih menekankan aspek tanzih maka Tuhan akan terbayang sebagai Tuhan masku­lin, transenden, jauh dan melahirkan suasanan keagamaan yang formal dan cenderung kering.

Sebaliknya dengan menekankan aspek tasybih maka Tuhan akan terbayang sebagai Tuhan feminin, immanen, dekat, dan melahirkan suasana keagamaan yang informal dan cenderung permissif.

Baca juga : Allah: A God dan The God (1)

Pandangan sufi lebih dekat kepada logika Advita Vedanta dalam agama Hindu, sebuah pemahaman non-dual­itas terhadap Tuhan (Brahma). Tuhan Maha Mutlak yang tidak mungkin wujud-Nya terbatas (The Limitless Being). Jika Tuhan dibatasi sebagai Maha Pencipta bersemayam di Arasy di atas sana, lalu makhluk-Nya berada di bawah, maka itu mengisyaratkan adanya dualitas (the duality of God), padahal Allah SWT Maha Esa (al-Ahad/the One and Only). Di sinilah bedanya dengan para teolog, yang membayangkan Tuhan sebagai Dvita Vedanta, yang membayangkan Tuhan memiliki privasi dan distinktifnya sendiri di samping makhluknya.

Pandangan sufi seperti ini juga tidak bebas dari kelemahan logika, terutama jika ditarik ke level kehidupan nyata (the real lives), yang mengharuskan adanya kepastian norma-norma hu­kum yang mengacu kepada kondisi obyektif masyarakat. Kesan yang terlalu elitis tidak bisa dihindari terutama kepada orang yang belum memahami secara mendalam logika tasawuf. Masih terlalu banyak ma­nusia yang belum sampai ke puncak ma’rifah atau mahabbah, atau ittihad maqam-maqam puncak kedekatan antara al-Haq dan al-Khalq. Keritikan yang sama juga sering dialamatkan dari ’orang awam’ agama-agama lain kepada elit spiritual mereka, bahwa tidak semua orang, bahkan teramat sedikit orang yang bisa sampai ke tingkat Moksa, sebuah pembebasan dari berbagai kemelekatan duniawi (the libration from the limited sense of self). Bersambung

Baca juga : Menghayati Nama Allah, Rab, Ilah, Dan Asma’ al-Husna (2)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 31 Maret 2024 dengan judul "Living Qur`an (19) Allah: A God Dan The God (3)"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.