Dark/Light Mode

Living Qur`an (27)

Bertutur Santun

Rabu, 17 April 2024 06:08 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Orang atau kelompok yang dianggap musuhpun kita tetap diminta untuk menggunakan nahasa yang pantas (qaulan maisuran): “...katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (Q.S. Al-Isra’/17:28). Tuhan meminta kita untuk menghindari bahasa yang keras (qaulan ‘adhiman): “ ... Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (Q.S. Al-Isra’/17:40). Hanya Tuhan yang berhak menggunakan bahasa yang berat (qaulan tsaqilan): “...Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”. (Q.S. al-Muzzammil/73:5).

Bangsa yang beradab dapat diukur melalui akhlak berbahasa masyarakatnya. Apakah kita masih termasuk bangsa santun dan beradab? Jawabannya mari kita mengukur bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahasa tubuh kita. Bahasa komu­nikasi bangsa tercermin di dalam bahasa yang digunakan oleh media; baik media cetak maupun elektronik.

Baca juga : Memuliakan Orang Tua

Bahasa yang digunakan oleh media semakin kaya dengan kosa kata kasar. Intonasi nada suara pembicaraan juga sudah semakin tinggi, keras, dan kasar.

Sepertinya kita tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata santun yang actual. Padahal, bangsa kita katanya bangsa yang santun dan beradab. Orang yang menggunakan bahasa santun malah sering disebut bahasa pencitraan, yang dikonotasi­kan negatif.

Baca juga : Kemurahan Hati (Al-Jud)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 17 April 2024 dengan judul "Living Qur'an (27) Bertutur Santun"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.