Dark/Light Mode

Antara Ajaran Islam dan Budaya Arab

Rabu, 13 Mei 2020 09:51 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia Islam harus berterima kasih kepada bangsa Arab. Nabi kita Muhammad SAW dan para Khulafaur-Rasyidun adalah orang Arab. Al-Sabiqun Al-Awwalun, yang pertama kali memasang badan melindungi Nabi dan berjuang keras melanjutkan estafet agama Islam dan mereka dijamin masuk syurga, adalah orang-orang Arab.

Orang-orang Arab juga tidak bisa diingkari jasanya di dalam mentransfor-masikan warisan intelektual Yunani ke dalam dunia Islam melalui upaya penerjemahan buku-buku dan penyerapan teknologinya.

Berita Terkait : Apa Itu Guluw?

Bahkan orang-orang Arab amat berjasa membawa Islam ke Indonesia, serta tak bisa dilupakan bahwa para Walisongo yang amat berjasa terhadap pengislaman di wilayah Nusantara, adalah juga turunan Arab.

Yang paling penting juga ialah Al-Qurán dan hadis, yang merupakan sumber ajaran Islam, menggunakan bahasa Arab. Namun demikian, tidak berarti Islam dan perangkat ajarannya harus identik dengan budaya Arab.

Berita Terkait : Tolak Bala Kalangan Orang Awam

Tidak seorang pun bisa mengklaim bahwa Islam harus identik dengan tradisi dan budaya Arab. Dengan kata lain, ajaran Islam dan bu-daya Arab tidak identik. Tradisi dan budaya Arab kebetulan merupakan lokus pertama yang menjemput kelahiran Islam.

Adalah wajar jika kemudian ajaran Islam banyak diwarnai oleh tradisi dan budaya Arab. Tradisi dan budaya inilah yang paling pertama mewadahi ajaran dasar Islam. Tidak heran kalau Imam Malik, salah seorang pendiri imam Mazhab yang mazhabnya dikenal dengan mazhab Maliki, memasukkan Ámal ahlul Madinah (tradisi penduduk Madinah) sebagai salah satu dasar atau rujukan hukum.

Berita Terkait : Tolak Bala Kalangan Wali (2)

Islamisasi suatu negeri yes, tetapi Arabisasi bisa dikatakan no. Namun demikian, tradisi dan budaya Arab juga mengandung nilai-nilai universal, yang compatible den-gan budaya dan tradisi lain tidak ada masalah.

Seperti halnya tradisi dan budaya Indonesia memiliki juga nilai-nilai luhur bersifat universal, sehingga bisa diterima di negara-negara lain. Misalnya, tradisi Halal bi Halal setiap usai bulan puasa, sekarang banyak diadopsi di Negara-negara lain seperti di kawasan Asia Tenggara, itu tidak ada masalah. ***