Dark/Light Mode

Meneguhkan Budaya Di Balik Bahasa (2)

Selasa, 26 Oktober 2021 06:39 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Dalam memahami sebuah teks, se­orang pengkaji dituntut memiliki wawasan semantik, semiotik dan hermeneutika yang mamadai. Jika tidak, maka kekeliruan ganda akan menghadang.

Baca juga : Meneguhkan Budaya Di Balik Bahasa (1)

Makna sebuah vocab/mufradat yang diciptakan oleh penciptanya seringkali tidak persis sama dengan maksud sang pengguna. Misalnya, pernyataan tentang “tangan Tuhan” dalam teks kitab suci, terkadang dipahami secara denotatif, yaitu mengungkapkan fakta sebenarnya, tangan kanan dan terka­dang pula digunakan secara konotatif, sebagai simbol kekuasaan Tuhan.

Baca juga : Tantangan Pesantren Di Masa Depan

Sama dengan kata “ibn” dalam al-masih ibn Allah (Yesus anak Allah), apakah kata itu mengungkap fakta, yak­ni anak dalam konotasi biologis, atau mengungkap simbol, yaitu anak dalam konotasi kedekatan atau representasi, seperti anak Indonesia di luar negeri. Sang pengkaji teks dituntut mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kalimat denotatif atau konotatif. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.