Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris Jadi Wirausaha Lewat Program PEKA
- PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Tausiah Politik
Sebelumnya
Dalam memahami sebuah teks, seorang pengkaji dituntut memiliki wawasan semantik, semiotik dan hermeneutika yang mamadai. Jika tidak, maka kekeliruan ganda akan menghadang.
Baca juga : Meneguhkan Budaya Di Balik Bahasa (1)
Makna sebuah vocab/mufradat yang diciptakan oleh penciptanya seringkali tidak persis sama dengan maksud sang pengguna. Misalnya, pernyataan tentang “tangan Tuhan” dalam teks kitab suci, terkadang dipahami secara denotatif, yaitu mengungkapkan fakta sebenarnya, tangan kanan dan terkadang pula digunakan secara konotatif, sebagai simbol kekuasaan Tuhan.
Baca juga : Tantangan Pesantren Di Masa Depan
Sama dengan kata “ibn” dalam al-masih ibn Allah (Yesus anak Allah), apakah kata itu mengungkap fakta, yakni anak dalam konotasi biologis, atau mengungkap simbol, yaitu anak dalam konotasi kedekatan atau representasi, seperti anak Indonesia di luar negeri. Sang pengkaji teks dituntut mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kalimat denotatif atau konotatif. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.