Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Banjir Jakarta

Anies Melawan Kritik Dengan Kata Dan Data

Senin, 15 Nopember 2021 08:30 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Facebook Anies Baswedan)
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Facebook Anies Baswedan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepekan ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan jadi sasaran kritik akibat banjir yang mengepung Ibu Kota, tiap kali habis hujan deras. Anies yang sebelumnya diam, akhirnya buka suara. Anies melawan kritik soal banjir itu dengan kata-kata rapih yang berbasis data-data.

Memasuki bulan November, curah hujan yang mengguyur Ibu Kota dan daerah sekitarnya, memang cukup tinggi. Tak heran, setiap kali hujan deras turun, Jakarta dilanda banjir. Ketinggian airnya pun bervariasi, mulai dari hitungan centimeter hingga mencapai 1,5 meter untuk wilayah yang selama ini jadi langganan banjir.

Selain yang disebabkan oleh curah hujan tinggi, Jakarta juga dilanda banjir rob akibat naiknya air laut ke daratan. Wilayah yang dilanda banjir rob ini berada di kawasan Jakarta Utara, seperti Muara Angke dan Penjaringan.

Berita Terkait : DDSM Tak Miliki Hubungan Kepemilikan Dengan Dompet Dhuafa

Sebenarnya, bukan hanya Jakarta yang dilanda banjir tiap habis hujan deras. Kota-kota lainnya, seperti wilayah Bekasi, Bandung, Tangerang, Malang dan daerah lain di Pulau Jawa. Bahkan di luar Jawa, seperti di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, banjir yang sudah 3 pekan melanda, belum surut juga.

Namun dari semua wilayah yang dilanda banjir, Anies jadi satu-satunya kepala daerah yang paling banyak menerima kritik. Di dunia nyata maupun dunia maya, lawan-lawan Anies jadikan banjir untuk bahan menyerang.

Di akhir pekan kemarin, Anies menjawab kritik dari para lawan politiknya soal banjir yang kerap melanda Ibu Kota. Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini memulainya dengan tiga tantangan yang dihadapi Pemprov DKI saat musim hujan.

Berita Terkait : Sambangi Pati, Anis Matta Dan Fahri Hamzah Tampung Curhat Nelayan

Hal pertama yakni untuk kawasan pesisir utara. Anies menyatakan kawasan utara Jakarta yang permukaan air lautnya lebih tinggi dan berpotensi menghadapi banjir rob.

“Mana front (penyebab) pertama kita sekarang berada di pesisir front pertama adalah pesisir pantai ketika permukaan air laut meningkat maka ada kawasan kawasan di Jakarta yang berpotensi mengalami rob ini front pertama yang harus diantisipasi,” kata Anies di Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, kemarin.

Kedua yaitu saat hujan ektrem terjadi di dalam kota Jakarta. Eks Rektor Universitas Paramadina ini mengatakan, kapasitas drainase jalanan utama di Jakarta mampu menampung air hujan dengan intensitas 100 milimeter (mm) per hari. Sedangkan untuk perumahan, komplek, dan perkampungan hanya dapat menampung 50 mm per hari.

Berita Terkait : Pulihkan Kota Batu, Sandiaga Bentuk Tim Manajemen Krisis Kepariwisataan

Artinya bila dalam satu hari hujan terjadi di atas 100 mm, maka akan terjadi genangan karena kapasitas daya tampungnya satu hari 100 mm per hari.
 Selanjutnya