Dewan Pers

Dark/Light Mode

Membelah Ceruk Pemilih Yang Sama

Kepastian Prabowo Nyapres Merugikan Anies Baswedan

Sabtu, 27 Agustus 2022 08:00 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Antara)
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepastian majunya Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebagai calon presiden dinilai merugikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang juga disebut-sebut akan ikut bertarung di Pilpres 2024.

Dalam analisa Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, majunya Prabowo menghambat ruang gerak Anies Baswedan. Menurutnya, sekalipun Anies memiliki elektabilitas tinggi sebagai tiga besar bursa Capres 2024 di sejumlah survei, tidak serta merta mulus meraih tiket nyapres di pesta demokrasi mendatang. Pasalnya, tetap saja parpol yang memiliki hak veto soal siapa yang bisa maju di ajang Pilpres. “Elektabilitas yang tinggi dan moncer di awal, tidak ada jaminan bisa lolos dan ikut sebagai peserta kontestasi elektoral pilpres 2024,” ungkapnya.

Berita Terkait : Pelaku Usaha Pengendalian Hama Minta Kemudahan Perpanjangan Izin Operasional

Faktor selanjutnya yang membuat Anies rugi jika Prabowo maju karena dua tokoh ini memiliki ceruk segmen pemilih di kolam yang sama. Dengan kata lain, ungkapnya, Prabowo maju ini sama saja memberikan karpet merah terhadap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai capres unggulan.

“Karena apa? Basis ceruk segmen Ganjar tetap tidak terbelah (straight ticket voting) semakin solid dan bulat, sementara basis suara Anies dan Prabowo terbelah,” katanya.

Berita Terkait : Hasil Survei: 76 Persen Masyarakat Puas Kinerja Anies Baswedan

Diungkapkan, membaca data crostabb by column Voxpol Center Research and Consulting bulan maret 2022 menunjukkan, pemilih Partai Gerindra yang memilih Prabowo sebesar 55,9 persen. Sementara pemilih partai Gerindra yang memilih Anies Baswedan presentasenya sebesar 44,7 persen.

Hal ini menggambarkan, pemilih Partai Gerindra split ticket voting alias terbelah ke capres Anies dan capres Prabowo secara signifikan. “Jadi saya bisa maklum, apa yang mendasari, melatarbelakangi mengapa Prabowo ngotot banget maju sebagai capres,” kelakarnya.

Berita Terkait : 76 Persen Masyarakat Puas Kinerja Anies Baswedan

Selain itu, majunya Prabowo membatasi kesempatan Anies diusung parpol sebagai capres. Apalagi, kuota 20 persen partai koalisi wajib dikantongi setiap calon kandidat untuk maju di kontestasi Pilpres 2024.
 Selanjutnya