Dewan Pers

Dark/Light Mode

Di Tengah Kompleksitas Tantangan Global, Siapa Capres Ideal?

Kamis, 1 Desember 2022 23:47 WIB
Direktur Eksekutif Simetris Research and Consulting Aher Budiantoro (Foto: Istimewa)
Direktur Eksekutif Simetris Research and Consulting Aher Budiantoro (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Selepas perhelatan G20, yang secara umum dianggap berbagai kalangan berjalan sukses, nama Indonesia kembali mengemuka dalam percaturan global. Majalah terkemuka The Economist, Sabtu (19/11) bahkan menuliskan tajuk berita utama tentang Indonesia sebagai negara penting yang kerap luput dari perbincangan global.

Dalam uraiannya tersebut, The Economist menjelaskan bahwa sebagai negara anggota G20 dengan pertumbuhan PDB terbesar setelah China dan India, Indonesia dianggap berhasil menjalankan demokrasi dan reformasi ekonomi secara beriringan, serta memiliki posisi strategis secara geopolitik, baik dari wilayah, jumlah penduduk, dan sumberdaya. Jika Indonesia konsisten di jalur yang tepat, dalam dekade mendatang Indonesia akan melenggang menjadi sepuluh besar ekonomi terkuat di dunia.

Direktur Eksekutif Simetris Research and Consulting Aher Budiantoro menilai, keberhasilan Indonesia dalam memimpin forum G20 perlu dicermati sebagai bagian dari upaya pemerintah Indonesia memainkan perannya dalam percaturan ekonomi global di tengah kondisi perekonomian dunia yang sedang tidak baik-baik saja akibat perang antara Rusia dan Ukraina. Aher pun mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam G20 karena telah berhasil menyatukan pandangan negara-negara anggota yang berbeda kepentingan menghasilkan deklarasi para pemimpin (leader's declaration), dan itu menjadi kali pertama sejak Rusia memulai operasi militernya di Ukraina pada Februari 2022.

“Dalam konteks ini, sumbangsih yang telah dilakukan Indonesia sangat penting, mengingat ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina ini semakin menambah beban dunia dalam upaya pemulihan ekonomi global, termasuk Indonesia,” kata Aher, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (1/12).

Berita Terkait : Hati-hati Penipuan, Jangan Asal Scan QR Code

Aher mengatakan, Indonesia tak lama lagi akan menghadapi tahun politik, yaitu Pemilu Serentak 2024. Menurutnya, momentum kepemimpinan Indonesia dalam forum G20 ini jangan sampai terhenti di tengah jalan, mengingat tantangan dunia ke depan akan semakin berat. “Belum ada pihak yang bisa menjamin kapan ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina ini akan mereda, sehingga kondisi ini akan membuat pemulihan ekonomi global maupun nasional akan terus berada dalam ketidakpastian,” ujarnya.

Untuk itu, Aher menilai figur capres dan cawapres yang bertarung dalam Pilpres 2024 nanti adalah figur-figur yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dan memahami betul tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia ke depan dengan segala kompleksitasnya.

Jika menyelisik hasil survei terbaru yang dirilis Skala Survei Indonesia (SSI) yang digelar pada 6-12 November 2022, berjudul ‘Dampak Ketegangan Global Terhadap Keamanan Indonesia’, ada sekitar 17,9 persen responden yang setuju dengan penyataan bahwa perang antara Rusia melawan Ukraina akan berdampak pada keamanan Indonesia. Sementara, sebanyak 12,8 persen mengatakan konflik tersebut tidak akan berdampak pada keamanan Indonesia.

Adapun alasan responden yang memilih pernyataan bahwa konflik Rusia-Ukraina akan berpengaruh terhadap keamanan Indonesia antara lain karena: Berdampak ke ekonomi (25,1 persen); Semua negara ikut merasakan akibat perang termasuk Indonesia (14,4 persen); Berdampak ke harga minyak (8,8 persen); dan Bisa terjadi perang dunia (6,5 persen).

Berita Terkait : BUMN Timah Salurkan Pangan Untuk Korban Gempa Cianjur

Terkait hasil survei tersebut, Aher menilai kekhawatiran publik mengenai dampak konflik antara Rusia dengan Ukraina terhadap prospek ekonomi nasional ke depannya cukup beralasan. Menurutnya, yang paling berbahaya dalam perang antara Rusia dan Ukraina itu adalah menajamnya eskalasi konflik yang berpotensi menyeret negara-negara lain, seperti Amerika Serikat dan NATO yang mendukung penuh militer Ukraina, sehingga cakupan perang akan menjadi jauh lebih besar, bahkan tidak menutup kemungkinan digunakannya senjata pemusnah massal (nuklir).

“Kalau sampai pecah perang dengan cakupan yang lebih luas, sudah bisa dipastikan suplai dan distribusi komoditas global, baik pangan dan energi akan terhenti secara drastis, dan itu akan sulit kita kembalikan ke titik normal dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Aher berharap Pemerintah Indonesia terus mewaspadai dan siap mengantisipasi segala kemungkinan terburuk jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi konflik antara Rusia-Ukraina yang dapat memicu kontraksi perekonomian global secara mendadak dan membawa ekonomi Indonesia ke jurang resesi.

Tak hanya itu, laporan Skala Survei Indonesia juga mencoba mengelaborasi terkait tokoh nasional yang dinilai dapat mengatasi masalah ancaman keamanan Indonesia akibat perang antara Rusia-Ukraina. Hasilnya, sebanyak 11,1 persen responden yang menyatakan ada tokoh nasional yang bisa mengatasi ancaman tersebut. Adapun nama-nama tokoh nasional yang dinilai responden bisa mengatasi ancaman keamanan tersebut di antaranya, yaitu: Prabowo Subianto sebanyak 39,1 persen; Jokowi 29,3 persen, dan Anies Baswedan 6,8 persen.

Berita Terkait : Lintasarta Dukung Kelancaran Konektivitas Jaringan Komunikasi Data Presidensi G20

“Pak Prabowo dipersepsikan memiliki kompetensi dalam mengatasi ancaman global sebesar 39 persen, mengungguli Presiden Jokowi yang berada di kisaran 29 persen. Latar belakang militer, yang secara ketokohan identik dengan ketegasan, ditambah jabatan beliau sebagai Menteri Pertahanan yang menyelenggarakan fungsi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pertahanan, menjadi wajar jika Pak Prabowo dinilai masyarakat sebagai tokoh yang diproyeksikan mampu melanjutkan kepemimpinan nasional untuk mengatasi masalah ancaman keamanan Indonesia akibat perang antara Rusia-Ukraina,” tuturnya. 

Aher memprediksi, pemulihan ekonomi, baik nasional maupun global, akan memakan waktu yang tidak sebentar, sehingga tongkat estafet kepemimpinan nasional dari Jokowi ini idealnya diisi oleh figur yang nantinya mampu mengatasi potensi ancaman keamanan dan perekonomian, baik di tataran domestik maupun global.■