Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Pesan Penting Prof. Tjandra, Soal Penyakit Tidak Menular, Yang Faktanya Paling Banyak Merenggut Nyawa
Minggu, 15 Januari 2023 14:51 WIB
Sebelumnya
Ketiga, mengendalikan faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular. Seperti kebiasan merokok, pola makan tidak sehat, kurangnya akitivitas fisik, dan dampak buruk alkohol.
Keempat, mengintegrasikan pengendalian PTM ke dalam pelayanan kesehatan primer. Serta penerapan cakupan kesehatan universal (universal health coverage).
Artinya, semua lini kegiatan perlu dicakup ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kita.
"Keempat kegiatan ini harus diikuti juga dengan komitmen yang kuat untuk mengurangi polusi udara, dan meningkatlkan upaya kesehatan kesehatan jiwa dan kesejahteraan (mental health and well-being)," pesan Prof. Tjandra.
Baca juga : Pegadaian Dukung Kejari Jakarta Selatan Tindak Pelaku Fraud Cabang Kebayoran Baru
Di sisi lain, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengendalian penyakit tidak menular, juga akan berdampak penting dan memberi manfaat dalam pengendalian penyakit menular seperti TB dan HIV, dan juga kesehatan ibu anak. Serta penerapan universal health coverage.
"Dalam hal ini, kita juga menyadari adanya emacam keterbatasan, jika program pengendalian penyakit hanya mengarah spesifik ke satu penyakit," ucap Prof. Tjandra.
Program terintegrasi dapat meningkatkan pengendalian keterkaitan penyakit dan juga komorbiditasnya. Salah satu contoh konkretnya adalah skrining diabetes pada program pengobatan tuberkulosis dan sebagainya.
Prof. Tjandra menyebutkan, salah satu tantangan program pengendalian PTM di dunia adalah keterbatasan prioritas anggaran.
Baca juga : Prof. Tjandra: Banyak Tantangan Mengendalikan Penyakit Menular Di Tanah Air
Sebagian besar pengembangan anggaran kesehatan dunia dewasa ini, memang masih lebih dialokasikan untuk pengendalian penyakit menular. Baru setelah itu, mengarah ke masalah kesehatan lain. Termasuk, penyakit tidak menular.
Misalnya, sudah lama ketahui, bahwa di dunia sudah ada kerja sama internasional dalam bentuk Global Fund to Fight AIDS, TB and Malaria (GF ATM).
Anggaran yang setiap tahun diinvestasikan untuk ketiga penyakit menular ini, berjumlah sekitar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
"Terkait beban penyakit tidak menular di dunia, beberapa pihak sudah mulai menggulirkan usulan, agar ruang lingkup GF ATM juga dapat diperluas untuk mencakup PTM. Setidaknya, dapat dimulai dengan penyakit tidak menular yang berhubungan dengan AIDS, TB dan Malaria," beber Prof. Tjandra.
Baca juga : Potensi Pasar KFX/IFX Tinggi, Turki Diramal Jadi Negara Yang Paling Banyak Beli
Di sisi lain, Presidensi Indonesia dalam G20 telah memberikan hasil konkret, dengan membantu ketersediaan pembiayaan bagi negara-negara rentan dan miskin melalui pembentukan Resilience and Sustainability Trust (RST) dan penggalangan Dana Pandemi (Pandemic Fund).
"Baik dipertimbangkan, agar ruang lingkupnya juga dapat mencakup penyakit tidak menular yang terkait," kata Prof. Tjandra.
Menurutnya, pengalaman penanganan (lessons learned) dari pandemi Covid-19 selama ini telah membuka kemungkinan, untuk secara luas memperkuat persiapan dan respons keadaan emergency kesehatan di luar pandemi.
Manajemen risiko emergency kesehatan dan keberlanjutan pelayanan kesehatan esensial untuk semua ancaman (all hazards), pada dasarnya ditujukan untuk mengatasi kesenjangan sistem kesehatan. Yang akan bermuara pada perbaikan keamanan kesehatan (health security). ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya