Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
75% Sampah Berakhir di TPA, Guru Besar UGM Dorong Teknologi Waste-to-Energy
Kamis, 13 Agustus 2026 08:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia yang merupakan negara agraris dan maritim, menghasilkan biomassa dan limbah dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya, baik dari sektor pertanian, perkebunan, maupun limbah perkotaan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menyebutkan, timbulan sampah pada tahun 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton. Limbah rumah tangga merupakan penyumbang terbesar (58,58 persen), dengan komponen dominan sampah organik atau sisa makanan (39 persen).
“Tapi sayangnya, 75 persen dari sampah tersebut berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang minim pengolahan dan minim pemanfaatan. Akibatnya, potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” jelas Dosen Departemen Teknik Kimia UGM Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono, ST, MSc, PhD, IPM dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Bidang Biomassa dan Sampah menjadi Energi, di Balai Senat UGM Yogyakarta, Selasa (11/8/2026).
Dalam pidato berjudul “Mengubah Limbah Menjadi Energi: Inovasi Teknologi Proses untuk Mendukung Transformasi Industri Nasional”, Rochim menyebut sampah atau limbah sering dipandang sebagai konsekuensi yang tidak diinginkan dari sebuah proses produksi dan konsumsi. Paradigma seperti ini, menurutnya, mendorong masyarakat melakukan pendekatan yang berorientasi pada pembuangan akhir atau end-of-pipe treatment.
“Di satu sisi, timbulan sampah kita semakin besar. Di sisi lain, kebutuhan energi nasional kita terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Sementara energi fosil masih mendominasi bauran energi nasional kita,” papar Rochim.
Baca juga : Tinjau Lahan 100 Hektare Di Tangerang, Pram: Ciangir Bukan Bantargebang Baru
Merespons permasalahan ini, Rochim bersama Departemen Teknik Kimia (DTK) UGM, meneliti bahwa biomassa dan limbah ternyata mempunyai peran yang unik. Berbeda dengan sumber energi terbarukan lainnya, limbah dan biomassa tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga bisa mengurangi timbunan sampah, meningkatkan efisiensi penggunaan, dan juga mengurangi emisi.
“Pemanfaatan biomassa dan limbah memberikan manfaat ganda yang mencakup energi, lingkungan, dan ekonomi,” terangnya.
Rochim menambahkan, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat atau nilai tambah apabila tidak didukung oleh inovasi teknologi proses yang tepat. Indonesia, menurutnya, harus memiliki kemampuan untuk mengubah biomassa menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Dalam hasil risetnya, Rochim menawarkan konsep Resource Transformation Engineering, yakni sebuah pendekatan rekayasa yang menempatkan limbah dan biomassa sebagai sumber yang dapat ditransformasi menjadi energi, material, dan produk yang bernilai tinggi.
Baca juga : Pramona Akui Banyak Yang Nikmati Untung dari Sampah Jakarta
“Resource Transformation Engineering mungkin masih jarang kita dengar. Ini merupakan konsep yang kita usulkan untuk lebih mendorong dan memperkuat perubahan paradigma dan menjamin pemanfaatan limbah dan biomassa atau disebut waste-to-energy,” paparnya.
Rochim menguraikan, konsep ini bertumpu pada 5 pilar utama, yakni sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah atau value-added product, sistem industri berkelanjutan, dan dampak yang nyata bagi masyarakat.
Lewat disiplin ilmu yang mempelajari transformasi material dan energi, Rochim mengungkap Teknik Kimia memiliki peran sentral dalam mewujudkan konsep tersebut. “Kekuatan utama rekayasa proses terletak pada kemampuan menghubungkan karakteristik bahan baku, desain proses, dan kebutuhan industri menjadi satu sistem yang efisien,” bebernya.
Rochim berpendapat, keberhasilan implementasi teknologi waste-to-energy sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap karakteristik sampah lokal. Menurutnya, teknologi yang terverifikasi dan berhasil diterapkan di luar negeri belum tentu cocok dan berhasil saat diimplementasikan di Indonesia, sehingga membutuhkan pelbagai penyesuaian.
Baca juga : Pertamina NRE dan METI Perkuat Ekosistem Energi Terbarukan di Sulawesi Utara
“Kondisi ini lah yang menjadi tantangan pengembangan biogas untuk mendukung ketahanan energi dan meningkatkan nilai tambah limbah organik,” tutur salah satu dari 539 guru besar aktif di UGM.
"Agar tetap relevan dengan tantangan masa depan, arah penelitian terkait waste-to-energy harus terus diperbarui dan difokuskan pada pengembangan renewable carbon, biorefinery terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi digital,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya