Dark/Light Mode

Catatan Prof. Imron Cotan

Dr. Socrates S. Yoman: Realita Terbalik (Twisted Reality)

Minggu, 11 Juli 2021 07:28 WIB
Prof. Imron Cotan (Foto: Istimewa)
Prof. Imron Cotan (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Sejak itu, Tanah Papua kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan negara kolonial Belanda menarik diri dari wilayah tersebut. Hingga saat ini, Belanda tidak pernah lagi mempermasalahkan status Tanah Papua sebagai bagian integral wilayah kedaulatan Indonesia. Atau, mengeluarkan pernyataan bahwa pada tanggal dan tahun tertentu telah mendeklarasikan kemerdekaan Tanah Papua, seperti yang sering didengung-dengungkan oleh para pendukung gerakan separatisme (twisted reality proponents).

Adalah suatu hal yang halusinatif, jika mereka berpandangan bahwa para pemimpin negara-negara di dunia yang mendukung Resolusi SMU-PBB Nomor: 2504 (XXIV)/1969 adalah terlalu bodoh (stupid enough), menginstruksikan delegasi negara mereka di SMU-PBB, untuk mendukung resolusi tersebut. 

Teologi Pembebasan
Teologi Pembebasan digagas oleh tokoh gereja Gustavo Gutierrez Merino (Peru, 1970-an). Pada dasarnya, ideologi tersebut berkeyakinan bahwa gereja adalah penyelamat rakyat di tengah-tengah suasana kekacauan dan penindasan. Teologi Pembebasan merebak di hampir seluruh negara-negara Amerika Latin, seperti antara lain: Argentina, Chili, Paraguay, El Salvador, Guetemala, Venezuela, dan Nikaragua. Namun, praktis gagal mengubah “political landscape” wilayah Amerika Latin. It wasn’t a viable solution.

Baca juga : Catatan Eros Djarot: Pertemuan Dan Pesan Terakhir Rachmawati Soekarnoputri

Tampaknya, Pendeta Socrates S. Yoman, masih terpana oleh, dan terperangkap dalam, ideologi Teologi Pembebasan yang sudah terbukti gagal tersebut dan bahkan sudah ditinggalkan di wilayah aliran tersebut lahir, dengan cara mencoba memanipulasi sentimen bahwa OAP terjajah, terpinggirkan, dan diperlakukan secara diskriminatif. 

Adalah ironis, jika Undang-Undang Nomor 11/2001 tentang Otonomi Khusus (Tanah Papua), yang praktis mengalokasikan seluruh jabatan-jabatan strategis kepemerintahan secara eksklusif kepada OAP, sementara menutup peluang bagi para pendatang untuk berkompetisi secara bebas untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, berdasarkan prinsip meritokrasi. 

Praktis, orang-orang non-OAP terdiskriminasikan di Tanah Papua, atas nama kredo “Papua Untuk Papua”, sementara OAP tetap memiliki peluang untuk berkompetisi dan berkarya di seluruh wilayah NKRI. Tampaknya, Pendeta Socrates S. Yoman perlu juga berkaca tentang apa yang saat ini terjadi di Timor Leste, yang tidak mampu membentuk pemerintah selama bertahun-tahun, walau secara historis kedua wilayah tersebut tidak dapat diperbandingkan.

Baca juga : Putusan Pilpres MK, Pertama dan Terakhir

Akar Masalah
Esensi masalah di Tanah Papua sesungguhnya adalah tindakan koruptif para elite lokal dalam menggunakan triliunan rupiah dana otonomi daerah, sehingga tujuan untuk membangun 4 (empat) sektor strategis di wilayah tersebut, yaitu: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi kerakyatan, tidak tercapai. Tuntutan untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas di dalam mengelola APBD selalu dihadapkan pada opsi kemerdekaan, sehingga “rampant corruption” terjadi berlarut-larut di Tanah Papua.

Adalah suatu hal yang mulia, sebagai tokoh agama, Pendeta Socrates S. Yoman menyalurkan rasa frustasinya kepada para elite yang koruptif tersebut, daripada “memainkan” kartu penjajahan dan diskriminasi ras, untuk mengalihkan akar masalah yang ada di Tanah Papua. Memang, jika kedua kartu tersebut ditarik dari “equation”, Pendeta Socrates S. Yoman seolah-olah akan kehilangan eksistensinya. 

Sesungguhnya tidak, karena dengan membuang “inlander mentaliteit” peninggalan negara kolonial Belanda dan meninggalkan Teologi Pembebasan yang gagal tersebut, Pendeta Socrates S. Yoman akan menjadi pelita—sesungguh-sungguhnya pelita—bagi umatnya di Tanah Papua, melangkah tegar menuju Indonesia Emas pada tahun 2045, bersama dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.***

Baca juga : TNI AU Gandeng AP II Gelar Program Vaksinasi Buat Pekerja Bandara Soetta

Penulis: pemerhati isu-isu strategis, termasuk isu Papua.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.