Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ramai Campur Dan Tambah Dosis Vaksin Covid-19

Tolong Jangan Egois, Masih Banyak Yang Belum Divaksin

Jumat, 16 Juli 2021 05:21 WIB
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. (Foto : Istimewa).
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. (Foto : Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Lagi ramai mencampur (mixing vaccines) berbeda merek vaksin dan tambah dosis (booster) vaksin Covid-19. Masyarakat harap tenang. Kita tuntaskan dulu vaksinasi program herd immunity.

Menurut Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, masyarakat umum tidak perlu melakukan mixing vaccines atau tambah dosis vaksin Covid-19 sebagai booster. Cukup dua kali dosis vaksin untuk membentuk kekebalan individu dari virus Corona.

Dia menjelaskan, berdasarkan beberapa penelitian, kekebalan yang ditimbulkan setelah vaksin Covid-19 dosis kedua, dapat bertahan pada tubuh manusia dalam kurun beberapa bulan atau bahkan tahunan. Jangka waktu bertahannya kekebalan akan bergantung pada kondisi tubuh masing-masing.

Berita Terkait : Yuk, Saatnya Masyarakat Sadar Pentingnya Prokes Dan Vaksinasi

“Secara umum, dua kali dosis vaksin sudah cukup bagi masyarakat untuk membentuk kekebalan individu. Karenanya, melakukan mixing vaccines atau penambahan dosis booster tidak disarankan,” tegasnya.

Wiku memastikan, pemerintah tidak akan lepas dari fokus utama untuk mempercepat pembentukan kekebalan komunitas sesegera mungkin. Pemerintah, lanjut dia, menjamin seluruh masyarakat, khususnya populasi rent­an mendapatkan haknya untuk divaksin.

“Hal yang terpenting saat ini ialah persebaran vaksinasi yang merata dan berkeadilan secara nasional,” tegasnya.

Berita Terkait : Pasien Isoman Sebaiknya Isolasi Di Tempat Perawatan Pemerintah

Adjunct Professor di bidang Infectious Disease and Global Health oleh Tufts University itu mengingatkan, vaksinasi tidak akan sempurna jika tidak diikuti dengan intervensi lainnya, seperti pengendalian mobilitas dan aktivitas masyarakat. Dia juga meminta masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan.

“Ini demi diri kita, keluarga kita, bangsa kita, bahkan dunia,” kata Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) itu.

Wacana mixing vaccines dan tambahan dosis mengemuka di masyarakat seiring rencana pemerintah menambah pemberian dosis untuk tenaga kesehatan (nakes). Nakes dinilai memiliki risiko penularan tertinggi, karena intensitas dan lokasi beraktivitas yang erat kaitannya dengan fasilitas layanan kesehatan.

Berita Terkait : Niatnya Baik, Tapi Banyak Yang Minta Sistemnya Diperbaiki Lagi

Menurut @Comment25, Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan mencam­puradukkan vaksin Covid-19. Kata dia, praktek mencampuradukkan vaksin justru berbahaya.
 Selanjutnya