Dark/Light Mode

Waspadai Varian Corona Selain Delta, WGS Kudu Ditingkatkan

Rabu, 28 Juli 2021 16:13 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)
Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Virus Corona varian Delta disebut sebagai biang kerok tingginya penularan Covid-19 di Tanah Air. Mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan untuk mewaspadai kemungkinan adanya varian lain virus Corona di Indonesia.

Tjandra menjelaskan, pada 15 Juli 2021, pimpinan Emergency Committee WHO tentang Covid-19, Prof Didier Houssain menyatakan, ada kemungkinan besar (strong likelihood) bahwa di waktu mendatang akan ada varian baru yang menyebar di dunia. Varian itu mungkin lebih berbahaya dan bahkan lebih sulit dikendalikan.

"Semua ini menunjukkan bahwa kita memang perlu memiliki data dan informasi yang akurat tentang perkembangan berbagai varian baru Covid-19 di negara kita," ujar Tjandra dalam siaran pers yang diterima RM.id, Rabu (28/7).

Mantan Dirjen P2P dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini menyebut, varian Delta adalah salah satu Varian of Concern (VoC) dalam klasifikasi WHO, bersama varian Alfa, Beta dan Gamma.

Berita Terkait : Ada Yang Mulai Melegakan, Ada Yang Mengkhawatirkan

Di luar itu, ada juga berbagai varian baru yang dikelompokkan WHO menjadi Variant of Interest (VoI), yaitu varian Epsilon, Zetta, Eta, Theta, Iota, dan dua yang paling banyak dibicarakan, yakni varian Kappa dan Lambda.

"Walau sekarang kita banyak membahas dampak varian Delta di tanah air tapi kita tentu perlu waspada juga dengan kemungkinan varian baru lain," tuturnya.

Varian baru itu, kata Tjandra, bisa bermula dari luar negeri, atau bukan tidak mungkin terbentuk di Indonesia karena tingginya angka penularan di masyarakat.

"Jelasnya, kalau penularan di masyarakat sedang tinggi, seperti sekarang sedang terjadi di negara kita, maka virus akan terus bereplikasi dengan jumlah yang banyak, dan bukan tidak mungkin waktu replikasi akan terjadi perubahan atau mutasi bagian virus dan kemudian terbentuk varian baru," wanti-wanti Tjandra.

Berita Terkait : Menag: Ketakutan Kepada Tuhan Dan Corona Tak Boleh Dipertentangkan

Untuk kesehatan masyarakat dan menentukan kebijakan, pemerintah perlu mengetahui data yang cukup luas tentang varian Delta, atau varian lain, di Tanah Air.

"Jadi, peningkatan jumlah pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) menjadi amat diperlukan untuk kita mengetahui secara lebih tepat apa saja yang ada di lapangan," saran Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI) ini.

Saat ini, Indonesia baru memeriksa sekitar 3.000 sample WGS. Data per tanggal 27 Juli 2021 dari GISAID, yang mengumpulkan semua sekuensing virus Covid-19 di dunia, menyebutkan bahwa sekuens yang dikirim dari Indonesia adalah sebanyak 3.614 genom dari hampir 2,5 juta genom yang dimasukkan ke GISAID.

Jumlahnya masih kalah dengan Filipina yang sudah mengirimkan 5.305 genom, Singapura sejumlah 4.063 genom, dan India bahkan sudah memeriksa dan mengirimkan 35.868 genom.

Berita Terkait : Varian Corona Makin Ganas, Masker Kain Kudu 3 Lapis!

"Tentu kita tidak perlu membandingkannya dengan Amerika Serikat yang sudah mengirimkan 652.172 genom, atau Inggris yang dengan 593.155 genom," beber Tjandra.

Menurutnya, dengan meningkatkan jumlah pemeriksaan WGS, maka bukan tidak mungkin akan juga ditemukan varian baru selain Delta.

"Kita tahu di India sudah beredar juga varian Delta plus yang antara lain ternyata tidak dapat diobati dengan antibodi monoklonal seperti Casirivimab dan Imdevimab sehubungan adanya mutasi K417N. Sudah ada pula informasi bahwa mungkin Delta plus ada juga di Indonesia," tandasnya. [JAR]