Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
BARATA KRISNA
RM.id Rakyat Merdeka - Bicara soal suap dan pengaturan skor memang tidak ada habis-habisnya. Istilah yang juga akrab disebut Match Fixing itu sudah berakar di persepakbolaan nasional jadi kanker stadium 4.
Kasus suap dan pengaturan skor sebenarnya jadi masalah global. Tidak hanya di Indonesia, Italia pun pernah menanggung aib lantaran petinggi Juventus kongkalikong dengan Ketua Komisi Wasit FIGC(PSSI-nya Italia), agar menunjuk wasit-wasit tertentu yang membela klub tersebut selama berlaga di Serie A2005/2006. Kasus yang dikenal dengan calciopoli itu membuat Si Nyonya Tua harus kena sanksi terjun ke Serie B di musim berikutnya.
Baca juga : Sebut KPK Sinting, Fahri Berani Sekali
Di Indonesia kejadiannya sudah berlangsung sejak awal 1970-an. Nyaris semua elemen terlibat, mulai dari pemain, wasit, manajer, pelatih maupun perangkat pertandingan lainnya.
Mekanismenya cukup sulit dibuktikan, tapi keberadaannya dapat dirasakan. Bak orang yang (maaf) buang angin, baunya menyebar ke mana-mana, tapi siapa pelakunya, tidak ketahuan.
Baca juga : Rachel Amanda Ndablek Lawan Kanker TiroidÂ
Tapi indikasinya dapat saja ditengarai. Sebutlah ada seorang pemain yang memasang kaus kakinya sebelah dipakai secara full, kaus kaki sebelah lagi hanya dipasang setinggi pergelangan kaki.
Itu sebuah tanda bahwa si pemain tadi sudah siap menjalankan skenario. Entah seorang striker tidak mau mencetak gol, bek melonggarkan pertahanannya membiarkan penyerang lawan masuk kotak penalti, maupun gelandang yang kerap salah mengoper bola.
Baca juga : Wapres Dukung Proyek Buku Nikah Jadi Kartu Nikah
Nah, bagaimana menengarai seorang kiper sedang disuap atau terlibat dalam pengaturan skor? Seorang eks wartawan sebuah tabloid menyebutkan, indikasi kuatnya terlihat kalau Sang Kiper tidak sempurna dalam memasukkan jarinya ke sarung tangan. Jari tengah dan jari manisnya sengaja digabung dalam salah satu lubang. Sehingga bila ada sepakan atau sundulan ke gawangnya, bola pun masuk dengan gampangnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.