Dark/Light Mode

PAN Sampaikan Catatan Kritis

Sudah Pandemi, Kena Resesi

Senin, 18 Januari 2021 07:30 WIB
Ketua Dewan Pakar PAN, Dradjad Wibowo (Foto: Twitter Dradjad Wibowo)
Ketua Dewan Pakar PAN, Dradjad Wibowo (Foto: Twitter Dradjad Wibowo)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Amanat Nasional (PAN) membeberkan catatan kritisnya terhadap ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

Pemerintah dan rakyat dianggap tidak disiplin dengan tindakan kesehatan publik. Alhasil, pandemi melambung dan utang luar negeri pemerintah semakin menggunung.

“Bahasa gampangnya, sudah pandemi, kena resesi, utang nambah pula. Itu semua karena kita tidak disiplin,” ujar Ketua Dewan Pakar PAN, Dradjad Wibowo kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini menyoroti statistik Utang Luar Negeri (ULN) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI). Khususnya, efektivitas utang luar negeri dalam mengendalikan pandemi dan memulihkan ekonomi.

Dijelaskan, hanya dalam medio April-Juli 2020, Kementerian Keuangan menerbitkan 11 Surat Berharga Negara (SBN) Internasional. Nominalnya 7.002 juta dolar AS, setara Rp 98 triliun untuk membiayai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Baca Juga : 81 Orang Meninggal Akibat Gempa 6,2 SR Sulawesi Barat

Sejurus kemudian, ULN pemerintah per November 2020, naik sebesar 22.74 miliar dolar AS, setara Rp 318 triliun. Menariknya, ULN dari kreditor pemerintah dan lembaga internasional naik sekitar 3 miliar dolar AS, atau setara Rp 41 triliun.

Lalu, efektifkah penambahan ULN untuk mengatasi pandemi dan memulihkan ekonomi? Dradjad membandingkan langkah yang ditempuh Indonesia, Vietnam, dan Taiwan.

Indonesia, dianggapnya masuk kategori tidak disiplin menjalankan tindakan kesehatan publik karena takut ekonomi terpuruk. Sementara Vietnam dan Taiwan, adalah negara su per ketat dalam urusan protokol kesehatan, hingga menutup perbatasan.

Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia -5,32 persen di kuartal II-2020, dan -3,49 persen di kuartal III/2020. Indonesia pun mengalami resesi. Sementara Vietnam, tumbuh positif selama tiga kuartal 2020. Yaitu 3,82 persen, 0,39 persen dan 2,62 persen.

Kemudian Taiwan, di kuartal II tumbuh negatif -0,58 persen. Tapi di kuartal III, Taiwan sudah pulih, tumbuh 1,59 persen. Kemudian soal pandemi, hingga 6 Desember 2020, jumlah kasus di Vietnam hanya 1365, Taiwan 693.

Baca Juga : Digoyang Imin, Nadiem Gawat

“Jika dihitung per 100 ribu penduduk, jumlah kasus di Indonesia itu 72-149 kali lipat Vietnam dan Taiwan. Jumlah yang meninggal per 100 ribu penduduk di Indonesia 161-214 kali lipat di dua negara tersebut,” katanya.

Menurutnya, fakta ini membuktikan, pemerintah dan rakyat disiplin menjalankan tindakan kesehatan publik, seperti Vietnam dan Taiwan, berimbas kepada terkendalinya pandemi sekaligus memulihkan ekonomi.

Nah, atas menggunungnya utang luar negeri saat ini, politisi senior PAN ini mengingatkan pemerintah tentang bagaimana cara membayarnya. “Kondisi di atas membuat Indonesia makin susah lepas dari gali lubang tutup lubang. Apa ini yang hendak diwariskan ke anak cucu?” pungkasnya.

Seperti diketahui, posisi utang pemerintah per akhir Desember 2020 berada di angka Rp 6.074,56 triliun dengan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 38,68 persen. Komposisi utang pemerintah ini didominasi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN).

Tercatat sampai akhir Desember 2020, utang dalam bentuk SBN mencapai Rp 5.221,65 triliun atau 85,96 persen dari posisi utang. Rinciannya, dari pasar domestik terkumpul Rp 4.025,62 triliun. Sedangkan dari Surat Utang Negara sebanyak Rp 3.303,78 triliun, dan Surat Berharga Syariah Negara Rp 721,84 triliun.

Baca Juga : Lutfi Sudah Siapkan Rompi Anti Peluru...

Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengamini, saat ini banyak kritik tentang utang pemerintah, meski begitu optimis masih bisa dibayar. “Kita yakin mampu membayar itu terutama dengan yield yang semakin kompetitif,” ujar Yustinus dalam sebuah diskusi daring, di Jakarta, Jumat (15/1).

Meskipun terjadi penarikan utang di 2020 yang cukup besar, rasio utang terhadap PDB masih cukup terjaga, dibandingkan beberapa negara tetangga termasuk negara maju.

“Selama pandemi, tak bisa dibandingkan peningkatan utang 2020. Sebab, penerimaan pajak menurun, kebutuhannya meningkat otomatis mengandalkan utang,” jelasnya.  [BSH]