Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tenang Dengar Utang

Rabu, 10 Agustus 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Utang Pemerintah semakin menumpuk. Data terbaru, jumlahnya sudah mencapai Rp 7.000 triliun. Banyak yang gusar dan cemas dengan kondisi ini. Tapi, tidak demikian dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, yang menganggap utang itu masih kecil.

Kalau kurang baca, jumlah utang tersebut memang bikin panik. Apalagi bila mendengar berita mengenai beban bunga atas semua utang itu. Kondisi ini pun menjadi makanan empuk lawan politik.

Fakta ini terus digoreng untuk mencitrakan kegagalan Pemerintah dalam mengelola keuangan dan aset negara. Sayangnya, banyak sekali rakyat kita yang termakan gorengan isu ini. Tidak salah memang, karena pengetahuan umum dalam kehidupan sehari-hari rakyat, ketika seorang berutang, itu tanda ia miskin.

Berita Terkait : Bijak Bermedia sosial

Apalagi pinjamnya ke rentenir yang suka mematok bunga pinjaman mencekik. Semakin buruk saja citra program Pemerintah menambah utang.

Penjelasannya panjang, kenapa bangsa ini harus tenang saja kalau banyak utang. Pertama, berutang itu bukan berarti negeri ini miskin. Berutang itu hanya soal likuiditas. Negara ini perlu uang tunai untuk membayar biaya kegiatan pembangunan. Membangun infrastruktur itu melibatkan banyak kontraktor yang harus dibayar dengan uang dan segera.

Negara ini kaya dan punya harta kekayaan yang tidak bergerak, yang perlu waktu untuk diubah bentuk jadi uang. Nah, tenggat waktu inilah yang diperlukan pemerintah.

Berita Terkait : Berani Tidak Populer

Karena kaya, negeri ini banyak aset yang bisa dijaminkan dan dikapitalisasi jadi uang di masa yang akan datang. Uang utangan itu uang kita. Ini hanya soal manajemen cashflow saja. Negeri ini punya kemampuan untuk bayar.

Apalagi uang utangan itu dipakai untuk investasi pembangunan infrastruktur seperti jalan tol. Selain kelak dibayarkan dengan hasil penjualan tiket tol, juga dibayar dengan ekonomi masyarakat bergerak tumbuh cepat karena terbuka akses ekonomi hingga pelosok.

Sumbangan pertumbuhan ekonomi itu tidak harus langsung, banyaknya bahkan tidak langsung, akibat spending dana utangan untuk memperbaiki infrastruktur.

Berita Terkait : Belajar Memuji

Mekanisme ekonomi bergerak sendiri jika rakyat punya akses yang baik ke pusat-pusat ekonomi. Uang akan mengalir deras ke tempat yang aksesnya terbuka luas dan mudah.