Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bahaya "Budaya Kawan Dan Lawan"

Selasa, 29 November 2022 06:44 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjelang Pilpres 2024, kondisi memanas. Ada yang mengibaratkan seperti peperangan. Hal itu antara lain terlihat dari video viral yang beredar di media sosial. Di video itu tertangkap nuansa bahwa seorang pejabat “mengobarkan” semangat peperangan menghadapi Pilpres 2024.

Ini bukan yang pertama. Pada 2019, Amien Rais mengibaratkan Pilpres 2019 sebagai Armageddon serta Baratayudha.

Berita Terkait : Sampai Kapan Harus Impor?

Sesungguhnya, pesta demokrasi bukanlah sebuah peperangan. Tapi kebahagiaan. Politik yang telah memecah belah terlalu dalam jangan dipanas-panasi lagi. Jangan menyiram bensin di api yang sudah membesar.

Suhunya perlu disejukkan. Didinginkan. Para pemimpin, siapa pun, di pusat maupun daerah, perlu menghadirkan legacy bagaimana budaya politik yang baik.

Berita Terkait : Sejuk Di Suhu Panas

Semua pemimpin akan dikenang dengan legacynya, yang terlihat maupun tidak terlihat. Fisik maupun non fisik, termasuk budaya politik yang ditinggalkannya. Itu akan ditiru. Dikenang. Jadi contoh.

Memperlakukan Pilpres sebagai peperangan, sungguh berbahaya. Mempertebal dikotomi “kita dan mereka”, “kawan dan lawan”.

Berita Terkait : Jangan Hilang Momentum

Dikhawatirkan, polarisasi ini sengaja dipertahankan pihak tertentu demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Banyak pemimpin yang menggunakan metode itu untuk memaksa pihak lain yang belum selaras. Mereka menciptakan atmosfer pengap sambil berseru, “Anda bersama kami atau melawan kami”, atau “mereka yang tidak melawan kami adalah teman kami”.
 Selanjutnya