Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
Sebelumnya
Kenapa siklus “panas-panas tai ayam” ini berbahaya? Karena dia menyerupai virus. Menyebar, meluas, membelah diri dan semakin canggih.
Kalau tidak dihentikan, dia akan te rus berkembang biak. Bayangkan, kalau tidak ada kasus Mario yang menganiaya David, gaya hidup pejabat akan terus berkembang. Biasa saja. Dianggap wajar.
Baca juga : Bukan Bangsa Berbasis Viral
Penulis politik asal Amerika Serikat Hannah Arrendt menyebut fenomena ini sebagai “banalitas kejahatan”. Ini semacam kejahatan yang (lama kelamaan) dianggap sebagai kewajaran. Banal. Tak disadari.
Di negeri ini, kita bisa menemukan banyak “banalitas-banalitas” yang kemudian dianggap wajar, bahkan men jadi semacam “budaya”. Mulai dari istilah “uang rokok, uang dengar, uang fotokopi” dan uang-uang lainnya yang sejenis, sampai kasus dan pelaku-pelaku mega-skandal yang dianggap “hanya ketiban sial”.
Baca juga : Jangan Ada Gaduh Baru
Wajar, tapi apes. Di sinilah pentingnya keteladanan serta langkah tegas, jelas dan berkesinam bungan untuk menghentikan ber bagai banalitas tersebut. Kalau sekadar imbauan, kurang bergigi. Bahkan percuma.
Karena, hukum yang jelas-jelas tertuang dalam UU, bahkan konstitusi saja bisa dilanggar dengan segala dalih, apalagi kalau sekadar imbauan.
Karena itu, sekali lagi, perlu keteladanan, ketegasan, juklak yang jelas, konsisten dan berkesinambungan. Kalau tidak, jangan heran kalau pola lama terulang: kasus menghilang, “main” lagi. Kasus meredup, kejahatan terus hidup. Banalitas kian menjadi. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.