Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
Sebelumnya
Sekarang, preferensi politik menjadi sangat penting. Akibatnya, homofili politik tumbuh subur. Keterbelahan kian tebal dan meluas. Bhineka Tunggal Ika bisa terancam.
Kita ambil contoh Amerika Serikat, yang polarisasinya juga sangat tajam, seperti Indonesia.
Pada 1958, menurut Jajak Pendapat Gallup, 33 persen orangtua Demokrat menginginkan putri mereka menikah dengan seorang Demokrat.
Baca juga : Butuh Yang Konkret, Bukan Politainment
Sebaliknya, 25 persen orang tua dari Partai Republik ingin putri mereka menikah dengan seorang Republikan.
Pada 2016, terjadi perubahan drastis. Angka-angka itu masing-masing menjadi 60 dan 63 persen. Di era Presiden Donald Trump, ketika polarisasi menguat, angkanya bisa kian parah.
Karena, berdasarkan beberapa penelitian, di era Presiden Trump, rakyat Amerika yang sakit karena politik, meningkat drastis.
Baca juga : Bersanding Untuk Bertanding?
Kondisi ini sejalan dengan laporan dari American Psychological Association yang mengidentifikasi bahwa politik menjadi sumber utama stres bagi orang dewasa di Amerika.
Akibatnya, biaya kesehatan fisik, psikologis dan sosial, melonjak. Dampak lanjutannya bisa kian panjang. Bukan hanya menjadi isu politik kesehatan tapi juga isu relasi sosial, keutuhan bangsa, ekonomi serta produktivitas.
Apakah Indonesia sedang mengarah ke sana?
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.