Dark/Light Mode

Pilpres Itu People Power

Senin, 1 April 2019 07:48 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Bukan Amin Rais kalau tidak membuat sensasi. Pilihan ucapannya kali ini membetot perhatian, terkait potensi kecurangan Pilpres dan penggalangan People Power.

Sungguh sangat di luar nalar, di usia demokrasi kita memasuki 21 tahun masih mengusung dan mendengungkan istilah People Power. Term politik People Power memantik memori kolektif bangsa ini ke tahun 1998.

Ya, tahun saat massa turun ke jalan, berkerumun, menyemut di Gedung Senayan. Saat itu jutaan massa telah menjadi kekuatan penekan (political pressure) yang berhasil menumbangkan kekuasaan Orde Baru yang telah 32 tahun berkuasa.

Baca juga : Maling Jalan Terus

Saat ini, ketika Amien mendengungkan term ini, seperti horror Tahun Reformasi dicoba untuk diingat kembali. Kata People Power selain membawa berkah tapi mengandung cacat bawaan yang harus diwaspadai.

Seperti dua sisi dalam sekeping uang logam. Satu sisi mendorong gelombang perubahan namun seringkali berubah menjadi neraka kerusuhan. Konflik horizontal akibat terbelahnya dukungan massa politik mudah dijumpai dalam kegiatan mobilisasi People Power.

Saat ini kita tidak sedang menghadapi rezim diktator. Kita sedang menghadapi pesta demokrasi yang hasil kontestasi kedua kubu dimenangkan dengan selisih tipis saja. Irisan perbedaan kemenangan dan kekalahan boleh jadi hanya satu digit persen saja.

Baca juga : Politik Dan Persahabatan

People nyaris terbelah dalam porsi fifty-fifty. Apa ini artinya? Sungguh berbahaya sekali bila reaksi hasil Pilpres di-engineer dengan gaya People Power.

Saat memobilisasi massa di tahun 1998, nyaris seluruh komponen bangsa ini bulat mengakhiri politik gaya Orde Baru. Sehingga minim sekali potensi konflik massanya. Dengan begitu saja kerusuhan massa tak terhindar, sehingga menyebabkan trauma kolektif khususnya bagi kaum minoritas.

Konteks sekarang berbeda. Merujuk pada hasil survey, hasil Pilpres diprediksi menang tipis. Artinya, kalau ada yang mendorong penggalangan massa dalam konteks People Power maka bisa terjadi persinggungan massa, untuk tidak mengatakan konflik antar massa pro-kontra.

Baca juga : Artis Bayaran

Ini sungguh menjerumuskan bangsa ini ke jurang kerawanan sosial dalam ancaman konflik horizontal yang menghilangkan nyawa. Pilpres sesungguhnya adalah People Power. Saatnya di mana rakyat menjadi pemutus mutlak siapa sosok yang akan memimpin negeri ini.

Jadi kekuasaan ada di tangan rakyat. Gunakan hak pilih. Gunakan mesin kecerdasan untuk memilih siapa yang terbaik untuk Indonesia. Indonesia Maju. Indonesia Adil Sejahtera.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.