Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Guyur Hutama Karya Dan Waskita Rp 39 T
Gelontoran Modal Ala INA Sehatkan Keuangan BUMN
Rabu, 20 April 2022 07:30 WIB
Sebelumnya
Serta konfirmasi dimulainya transaksi (Confirmation of Transaction Commencement/ CTC) antara INA dan anak usaha Waskita, PT Waskita Toll Road untuk sejumlah ruas Jalan Tol Trans Jawa, mencakup ruas-ruas Tol Kanci-Pejagan sepanjang 35 km dan Tol Pejagan-Pemalang sepanjang 58 km.
Penandatanganan yang dilakukan di Kantor Kementerian Keuangan ini disaksikan langsung Presiden Joko Widodo, didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani. Serta dihadiri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.
Menurut Ridha, investasi ini juga menunjukkan sinyal positif bagi iklim investasi di Indonesia. Terutama minat investasi di sektor infrastruktur jalan tol Indonesia.
Baca juga : Jokowi: Saya Sangat Senang, Telurnya Pecah
Untuk itu, pihaknya akan terus menggalang investasi untuk sektor-sektor lain yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Serta memberikan dampak positif pada pembangunan berkelanjutan.
“Sebenarnya proyek lain yang sedang dipertimbangkan untuk diinvestasikan tahun ini, antara lain proyek pelabuhan laut, panas bumi, dan kesehatan,” ungkapnya.
Sebagai gambaran, saat ini aset dana kekayaan yang dikelola INA hampir 6 miliar dolar AS (setara Rp 86,1 triliun). INA berupaya meningkatkan angka tersebut menjadi 15-20 miliar dolar AS (setara Rp 215,3 triliun-Rp 287,1 triliun) dalam waktu tiga tahun ke depan.
Baca juga : Flip Gelar Kelas Kelola Keuangan Bagi Nelayan
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengakui, bahwa kehadiran INA sangat penting sebagai alternatif financing BUMN. Karenanya, dalam jangka pendek, ia menyarankan INA untuk memperkuat basis financing di sektor infrastruktur.
“Selama ini, sektor tersebut dikerjakan BUMN Karya dengan model financing berbasis instrumen utang. Ini menjadi masalah, karena saat ada force majeure seperti Covid-19, argo bunga terus jalan sementara pendapatan perusahaan berhenti,” jelas Toto kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Kondisi itu, lanjut Toto, menimbulkan beban cash flow sangat berat bagi perusahaan pelat merah.
Baca juga : Rano Karno: Pembangunan Berkelanjutan Harus Perhatikan Keadilan Sosial
Ia berharap, alternatif SWF (Sovereign Wealth Fund) dengan menanamkan investasi di equity pada proyek infrastruktur yang dibiayainya, akan lebih menyehatkan keuangan masing-masing BUMN.
“Karena mereka tidak lagi terlalu tergantung pada instrumen utang,” sambungnya.
Ia optimistis, dengan semakin bergeliatnya kembali ekonomi Indonesia pasca Covid-19, maka diproyeksikan trafik jalan tol juga akan ikut pulih ke depannya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya