Dark/Light Mode

Penangguhan Pungutan Ekspor Jadi Insentif Bagi Pelaku Usaha

Senin, 4 Maret 2019 12:04 WIB
Ilustrasi. (Foto : Antara)
Ilustrasi. (Foto : Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keputusan pemerintah menangguhkan pungutan ekspor minyak kelapa sawit dinilai sebagai langkah positif untuk membantu mengatasi defisit neraca perdagangan nasional.

Dengan tiadanya pungutan ekspor saat ini, diyakini bisa menjadi insentif bagi pelaku usaha. Petani hingga pengusaha kelapa sawit dinilai bakal terpacu untuk produksi dan ekspor komoditas unggulan Indonesia tersebut.

Berita Terkait : Mendag Jajaki Peluang Ekspor Karet Ke India

“Untuk mengantisipasi dampak defisit yang makin melebar maka diberi insentif untuk bisa melakukan ekspor. Salah satunya dengan menahan pungutan ekspor ini. Itu kebijakan yang cukup tepatlah,” tutur ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, kepada wartawan di Jakarta, akhir pekan.

Fithra mengamini, selama ini minyak kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan untuk mencetak pundi-pundi bagi negara. Keberlangsungan ekspornya tentu perlu ditunjang dengan insentif agar produksinya di dalam negeri, tidak terlalu terbebani dengan berbagai pungutan ekspor, maupun hambatan dari luar negeri.

Berita Terkait : PDIP Kaji Kembali Aturan Menteri Enggar

Menurutnya, keputusan pemerintah ini tak ayal mempertimbangkan votalitas harga minyak sawit di internasional yang masih sangat fluktuatif. Di sisi lain, ia meyakini keputusan ini juga mempertimbangkan ekspor nusantara yang pertumbuhannya belum signifikan.

“Bisa mengurangi setidaknya beban bagi pelaku usaha terkait sawit. Ini bisa menjadi insentif bagi mereka untuk berproduksi,” ujar akademisi ini lagi.

Baca Juga : Sandi: Ekonomi Kreatif Terus Tumbuh

Hanya saja dia mengingatkan, pengaruh kebijakan ini tidak bisa dilihat segera dalam nilai ekspor. Mengingat hambatan dari luar juga masih banyak. Untuk itulah, pencarian pasar baru masih perlu untuk terus digeliatkan. Upaya pemerintah yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam misi dagang membuka pasar baru untuk komoditas ini adalah hal yang juga penting.

“Dengan adanya hambatan yang makin tinggi dari negara partner memang tidak bisa berkembang pesat secara signifikan dalam waktu dekat,” ungkap Fihtra.
 Selanjutnya