Dewan Pers

Dark/Light Mode

Expo 2020 Dubai Perluas Perdagangan Indonesia Di Kawasan Teluk

Sabtu, 2 Oktober 2021 18:43 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya pemerintah membuka pasar baru bagi produk lokal, lewat penetrasi pasar di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), langkah yang tepat. Selain sebagai pasar baru (non-tradisional), Dubai juga dianggap sebagai lokasi yang strategis dan potensial untuk memperluas pasar ekspor Indonesia di kawasan teluk.

Sebab itu, keikutsertaan Indonesia dalam Expo 2020 Dubai merupakan langkah strategis dan tepat untuk perluasan pasar ekspor.

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira mengatakan, Expo Indonesia di Dubai yang dibuka Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi untuk menarik investasi baru, baik bidang pariwisata, ekspor dan impor. 

“Bukan secara umum, tapi spesifik yang dijual investasi sektoral dan ekosistem regulasi yang mendukung investasi-investasi secara sektoral tersebut. Itu yang harusnya ditonjolkan dalam setiap expo,” ucap Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) ini, Sabtu (2/10).

Bhima menyerukan, belajar dari pengalaman expo-expo sebelumnya di banyak negara yang diikuti oleh Indonesia, baik inisiasi pemerintah maupun dunia usaha, paling penting adalah adanya daya saing yang ditonjolkan secara spesifik. 

Dia menilai, expo ini bisa menyasar target investor yang memang tertarik di bidang usaha tertentu. Dan, langkah follow up terhadap expo harus dilakukan.  

“Jadi, follow up atau tindak lanjut itu menjadi satu hal yang sangat penting pasca expo. Lalu, penawaran dilakukan secara spesifik dan ada potensi kerja sama antar kedua negara bidang ekspor impor,” jelasnya.

Menurut Bhima, Timur Tengah sangat membutuhkan yang namanya spare part otomotif, sayur-sayuran, furnitur olahan kayu, tekstil pakaian jadi. Maka, banyak peluang untuk dilakukan penetrasi ekspor.

Berita Terkait : Menkeu: Fungsi KTP Bisa Buat NPWP

Hal sama diutarakan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal. Yang dilakukan Mendag Muhammad Lutfi, menurutnya, sesuai dengan usulan UI beberapa waktu lalu soal perluasan pasar non-tradisional.

"Ini sudah on the right track dengan usulan tim kami di Universitas Indonesia sejak 2016 (penetrasi non-tradisional)," ujar Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal kepada wartawan di Jakarta.

Untuk diketahui, negara yang masuk kategori non-tradisional belum memiliki perdagangan dengan Indonesia secara intensif. Karena belum digarap, Fithra menilai, ada potensi yang tersimpan pada negara-negara tersebut, termasuk UAE. 

Selain menjadi tujuan pasar bagi produk Indonesia, posisi UAE yang strategis juga bisa menjadi hub perdagangan dengan negara lain di kawasan tersebut. Sehingga, memperluas pasar yang telah dimiliki Indonesia. 

"Ini akan terbuka peluang (pasar) ke negara lain, terutama negara-negara teluk," ujarnya. 

Fithra menambahkan, potensi dagang akan lebih tinggi jika perdagangan atas negara-negara tersebut diikat kerja sama yang lebih institusional.  

(Entah) lewat FTA maupun CEPA, itu pasti akan mengintensifkan perdagangan. Yang jelas, perhitungan kami di awal negara-negara (non-tradisional) ini dikejar karena memperluas peluang ekspor," paparnya. 

Titik Balik

Berita Terkait : Mendag Yakin Paviliun Indonesia Bawa Pulang Perdagangan & Investasi

Sementara, Wakil Ketua Komite Tetap Timur Tengah dan OKI Kadin Indonesia Mohamad Bawazeer memproyeksikan realisasi IUAE-CEPA akan sangat positif. 

Perjanjian itu pun diyakininya akan menjadi titik balik hubungan perdagangan Indonesia-Timur Tengah. 

Bawazeer juga menilai, UAE telah memiliki investasi besar di dalam negeri. Sehingga, dengan perjanjian ini, akan melengkapi perdagangan dengan UEA yang ia proyeksikan bakal semakin berkembang. 

"Terobosan CEPA dapat menyelesaikan kendala ini. Karena di dalamnya termasuk masalah halal dan lainnya. Jadi, kita harap tahun ini bisa ditandatangani," sebut Bawazeer. 

Karenanya, dia percaya penuh, keberhasilan penjajakan dengan UAE akan menarik Qatar, Arab Saudi dan lainnya untuk melakukan hal serupa. 

“Semoga negara teluk lainnya seperti Arab Saudi dan Qatar bisa mengikuti jejak UAE. Karena yang paling susah itu buka jalan," terangnya. 

Sebagai informasi, Indonesia tengah mengikuti Expo 2020 Dubai yang berlangsung 1 Oktober 2021 sampai 31 Maret 2022 di Dubai. Kementerian Perdagangan menargetkan 2,5 juta orang dari berbagai belahan dunia mengunjungi Paviliun Indonesia di ajang tersebut.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dari Dubai menyampaikan optimismenya bahwa , Paviliun Indonesia pada Expo 2020 Dubai akan membuat pengunjung dari berbagai negara di dunia terkesima dan mengakui potensi sangat besar Indonesia. 

Berita Terkait : Mendag: Dunia Akan Saksikan Dan Akui Potensi Indonesia

Dengan mengangkat tema “Creating the Future, From Indonesia to the World” Paviliun Indonesia siap menyambut para buyers dan investor dari seluruh dunia.

Hal itu disampaikan Lutfi saat membuka Paviliun Indonesia secara resmi bersama Minister of State for Foreign Trade Uni Arab Emirates (UAE) Thani bin Ahmed Al Zeyoudi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (1/10). Turut mendampingi Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis.

Paviliun Indonesia menempati lahan seluas 1.860 m2 dan luas bangunan sekitar 3.000 m2. Terdiri dari tiga lantai dan terletak di zona Opportunity District dengan konsep Indonesia Emas 2045.

Lutfi menuturkan, Paviliun Indonesia yang menampilkan tiga zona waktu “Yesterday, Today, and Tomorrow” akan membuka mata dunia terhadap Indonesia dari kekuatan masa lalu, sekarang, dan masa depan Indonesia sebagai kekuatan global. 

“Izinkan kami menyambut semua orang dari berbagai penjuru dunia di Paviliun Indonesia. Kami berharap, dunia akan menyaksikan dan mengakui kepulauan kita sebagai peluang untuk berdagang, berinvestasi, dan berkunjung,” ucap Lutfi, seraya menekankan, Paviliun Indonesia dibangun atas dasar konsep “Unity in Diversity” yang dimanfestasikan dengan tambal sulam berbagai kerajinan tekstil tradisional batik Indonesia. [REN]