Dark/Light Mode

Kemendagri Dorong Kawasan Sarbagita Kelola Sampah Dengan Konsep Kearifan Lokal

Sabtu, 16 April 2022 10:11 WIB
Dirjen Adwil Kemendagri Safrizal ZA. (Foto: Ist)
Dirjen Adwil Kemendagri Safrizal ZA. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengelolaan sampah menjadi masalah klasik bagi kemajuan sebuah kota. Hampir sebagian besar masyarakat perkotaan membuang sampah rumah tangga secara gelondongan tanpa memilah mana yang organik dan non-organik.

Mereka mengandalkan tenaga kebersihan dan hanya tahu sampah itu akan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Salah satu kawasan perkotaan yang mengalami permasalahan serupa adalah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianjar, dan Tabanan (Sarbagita). Wilayah ini merupakan denyut utama pariwisata Provinsi Bali.

Sampah di sini berasal dari rumah tangga masyarakat setempat, serta para wisatawan domestik dan mancanegara. Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali, jumlah sampah yang terkelola sebanyak 3.102,87 ton per hari atau 72,48 dari keseluruhan. Artinya, ada sekitar 1.178,13 ton sampah per hari yang tidak terkelola.

Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Bina Adwil Kemendagri) sebagai pembina kawasan perkotaan mengajak semua pihak, mulai dari pemangku kebijakan, industri, komunitas pecinta lingkungan, dan masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam upaya pengelolaan dan pengurangan sampah ke TPA.

Baca juga : Dubes RI Rudy Alfonso Jajaki Kerja Sama Sepak Bola Dengan Wali Kota Porto

Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal mengatakan perlu ada kesadaran masyarakat dan industri di kawasan Sarbagita tentang pentingnya pengelolaan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Dengan pola ini, maka beban pemerintah selaku yang mengurus sampah dari kawasan permukiman hingga TPA bisa berkurang. Dia menghimbau para wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Kebersihan Bali sejak dari pintu kedatangan, seperti bandara dan pelabuhan, serta tempat-tempat publik lainnya akan membuat masyarakat dan wisatawan nyaman. Ini akan memberikan efek domino pada perekonomian, khususnya sektor pariwisata Bali,"ujarnya melalui keterangan tertulis pada Minggu (16/4).

Safrizal menerangkan, penanganan persoalan sampah di kawasan Sarbagita harus berkonsep ramah lingkungan, berkelanjutan, dan menggali potensi ekonomi dari daur ulang.

Baca juga : 2 Tahun Tertunda, Big Bang Jakarta 2022 Digelar Usung Konsep Ramadan

Dia menjelaskan ini memerlukan perencanaan, anggaran yang memadai, dan menemukan model bisnis yang tepat sehingga memberikan manfaat besar bagi perekonomian masyarakat. Dia menyebut Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat Bali bisa menggunakan kearifan lokal dalam pengelolaan sampah.

Sebenarnya sudah ada contoh pengelolaan mandiri. Masyarakat di Bali ada yang mengelola sampah organik dengan memasukkan ke dalam lubang dengan panjang, lebar, dan kedalaman masing-masing 1 meter.

"Setiap rumah biasanya memiliki dua lubang di belakang rumah. Satu lubang untuk diisi selama 1-2 bulan. Jika sudah penuh, sampah baru akan dimasukkan ke lubang sebelahnya. Nanti sampah di lubang yang lama dimanfaatkan menjadi kompos. Pengelolaan mandiri seperti ini perlu direplikasi ke daerah-daerah lain," papar Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendagri itu.

Safrizal mengatakan konsep penanganan dengan kearifan lokal ini bisa merujuk pada falsafah Tri Hita Karana. Visi yang harus dikedepankan: semesta adalah warisan untuk anak dan cucu kita di masa depan.

Baca juga : Kerja Sama Dengan Pemkot Singkawang, PLN Olah Sampah Untuk Bahan Bakar PLTU

Dia mengajak masyarakat untuk melestarikan alam dan budaya dengan mengelola sampah untuk kehidupan yang berkelanjutan.

"Solusi yang bertumpu pada kearifan lokasi biasanya terlihat sederhana dan selalu dipandang sebelah mata karena skalanya yang kecil. Padahal, jika diteliti lebih dalam lagi, pengelolaan sampah di rumah-rumah berdasarkan inisiasi masyarakat dan komunitas ini punya dampak besar terhadap pengurangan sampah,” tegasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Live KPU