Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Perjanjian lisan antara Putin dan Jokowi dilakukn 23 Juli 2022. Namun, sore harinya, 6 peluru kendali Rusia dikabarkan menghantam Pelabuhan Odesa, pelabuhan terbesar Ukraina. Banyak pihak bertanya-tanya, apa tujuan “serangan maut” Rusia ke Pelabuhan Odesa ketika berita bahwa Rusia akan membuka lagi pintu ekspor gandum dan pupuk Ukraina ke manca negara baru viral di manca negara.
Baca juga : Polri: To Be Or Not To Be
Tapi, satu sumber memberitahukan bahwa Kementerian Luar Negeri kita telah melakukan lobi-lobi di Moskow untuk menjamin supaya ekspor pupuk Rusia ke Indonesia melalui pintu Ukraina akan tetap lancar. Di mata Rusia, pupuk rupanya bukan komoditas strategis, apalagi Indonesia tergolong “negara sahabat” dan Putin sudah berjaji akan hadir langsung dalam KTT G20 di Bali nanti.
Baca juga : Polisi Tembak Polisi Di Rumah Jenderal Polisi
Mengenai konsekuensi penciutan jenis pupuk – dari 9 menjadi 2 jenis pupuk -- yang tetap mendapat subsidi pemerintah, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian mungkin perlu mengambil beberapa langkah agar petani tetap mampu dan berdaya: antara lain meninjau kembali harga patokan pembelian produk komoditas (padi, jagung, kedelai, dan lain-lain) yang saat ini masih dinilai rendah dan sudah lama tidak ditinjau oleh pemerintah. Kedua, mengawal proses pendataan petani berdasarkan data spasial lahan pengusahaan secara baik dan akurat, sehingga akurasi data petani penerima subsidi pupuk dapat lebih baik dan pemberian subsidi pupuk lebih efektif. Ketiga, penerapan syarat kredit usaha pertanian (dalam bentuk KUR, dan lain-lain) bisa lebih berpihak kepada petani tanpa melanggar prinsip-prinsip tata kelola yang baik, sehingga akses petani kepada perbankan bisa lebih baik.
Baca juga : Homo Sektus Mengancam Homo Moralis
Singkat kata, perang Rusia versus Ukraina adalah fakta yang tidak bisa kita “otak-atik” karena kedua belah pihak punya kepentingan masing-masing. Sampai kapan perang berakhir, dunia internasional pun tidak tahu, apalagi Indonesia. Yang jelas, dampak dari peperangan yang berkepanjangan itu akan dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Maka, mau tidak mau, kita harus berbenah diri mencari akal dan strategi untuk mengurangi dampak buruk terhadap perekonomian kita. Salah satu dampak serius yang harus kita benahi adalah mengurangi subsidi pupuk yang terancam meningkat terus, tapi di lain pihak, kepentingan petani pun tetap dijaga karena kesejahteraan petani terkait langsung dengan ketahanan pangan negara kita! ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.