Dark/Light Mode
Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (19)
Bolehkah Non-Muslim Menjadi Kepala Negara? (Pendapat Ketiga)
Tausiah Politik
Sebelumnya
Kerajaan Saba’ kemudian menjadi wilayah protektorat Nabi Sulaiman yang disebut di dalam Bibel sebagai Raja Salomon.
Ketiga, ternyata dalam kisah tersebut Nabi Sulaiman lebih menjanjikan nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Keempat, kisah-kisah masa lampau tidak pernah dijadikan dasar hukum kenegaraan di dalam wacana Islam kontemporer.
Baca juga : Bolehkah Non-Muslim Menjadi Kepala Negara? (Pendapat Kedua)
Dengan demikian, tentu akan lebih arif dan wajar jika kelompok yang dipilih (atau terpilih) dari kalangan mayoritas muslim untuk memimpin negerinya, dengan tetap memperhatikan hak-hak minoritas.
Kelompok masyarakat yang memiliki profesionalisme di bidangnya masing-masing, tanpa mempersoalkan agama dan etniknya dapat saja diakomodir pada tingkat menteri atau lembaga-lembaga negara lainnya sesuai dengan keahliannya.
Banyak contoh dalam sejarah pemerintahan Islam non-muslim ditempatkan di dalam struktur strategis. Nabi Muhammad Saw mempercayakan penasehat militer yang merupakan wilayah yang amat penting kepada Salman Al-farisi, seorang keturunan Persia, walaupun pada akhirnya masuk Islam.
Baca juga : Bolehkah Non-Muslim Menjadi Kepala Negara? (Pendapat Pertama)
Khalifah Umar mengangkat beberapa orang non-muslim sebagai pejabat negara seperti juru tulis (katib). (Lihat Al-Balazari, Futuh al-Buldan, h. 147).
Demikian pula dinasti-dinasti sesudahnya banyak sekali mengangkat pejabat penting di lingkungan istana dari non-muslim, khususnya dokter-dokter istana).
Bagi kelompok yang terbuka menerima non-muslim sebagai kepala negara di negara mayoritas muslim berpendapat, lebih utama dipimpin seorang non-muslim tetapi islami, ketimbang seorang muslim tetapi tidak islami.
Baca juga : Memperhatikan Hak Sosial-Budaya Non-Muslim
Namun tentu akan lebih baik dan lebih bijak jika negara mayoritas muslim dipimpin Kepala Negara muslim yang islami. Allahu a’lam.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.