Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rusuh Dan Siaga TNI

Selasa, 20 Oktober 2020 07:23 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Anggota Komisi Konstitusi MPR 2004

RM.id  Rakyat Merdeka - Aksi-aksi buruh pekan lalu bersama mahasiswa yang kemudian disusupi oleh kelompok-kelompok radikal melahirkan kerusuhan dalam skala “sedang”, nyaris seperti yang terjadi pada bulan Mei 2019 pasca pengumuman hasil pemilu 2019 di depan kantor KPU, Jalan Thamrin, hingga jalan Wahid Hasyim dan kawasan Tanah Abang. Polri dibantu TNI terpaksa mengambil tindakan keras untuk memberangus aksi-aksi radikal tersebut. Sejumlah korban tewas dan ratusan ditangkap pihak kepolisian dalam kerusuhan Mei 2019 itu.

Ada persamaan antara aksi radikal 8 Oktober 2020 (demo buruh plus mahasiswa) dan Mei 2019: sama-sama sudah kehilangan “tujuan murni” para pendemo, sama-sama diboncengi kelompok-kelompok liar, termasuk pelajar yang radikal dan sama-sama ditengarai digerakkan oleh “otak” atau “dalang” tertentu. Waktu kerusuhan Mei 2019, pihak kepolisian menangkap sejumlah tokoh yang dituding “otak” tersebut, minimal provokatornya, kemudian diproses meskipun proses hukum itu kemudian “putus” alias tidak ada kelanjutannya. Tudingan Kepolisian dan BIN terhadap aksi kerusuhan 8 Oktober 2020 sama: ada dalangnya. Hanya saja, publik belum tahu siapa dalang yang dimaksud. Kabar yang tersiar dalang itu pihak asing.

Berita Terkait : Jurnalistik Ofensif: Najwa Versus Luhut

Setiap kali pecah aksi kerusuhan di Jakarta diikuti ribuan, bahkan puluhan ribu massa, ingatan masyarakat Ibukota selalu melayang pada kerusuhan Mei 1998 yang berakhir dengan jatuhnya rezim Orde Baru. Aksi bakar-bakaran yang dilakukan mahasiswa dan massa lain yang berawal dari “tragedi Trisakti tanggal 14-15 Mei 1998 kemudian lepas kendali. Sekitar 17-19 Mei 1998 tidak kurang 500.000 massa menduduki gedung DPR/MPR sehingga tidak sedikit wakil rakyat yang terkurung di dalam gedung DPR/MPR. Pada saat-saat yang kritis itu, Ketua DPR/MPR Harmoko mengeluarkan pernyataan mengejutkan, yaitu meminta Pak Harto mendengar aspirasi rakyat, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden R.I.

Pertanyaannya: Di mana TNI saat-saat kritis itu? Apakah TNI tidak berdaya menghadapi kumpulan ratusan ribu massa, atau “angkat tangan” atau justru ada petinggi-petinggi TNI yang “bermain” dalam kekacauan politik itu, sehingga Presiden Soeharto terdesak dan tidak berdaya, kecuali mundur secara terhormat?

Berita Terkait : Pagi Ini, 55 Tahun Yang Lalu

Kerusuhan Mei 1998, Anda percaya atau tidak, rupanya memberikan inspirasi kuat kepada kelompok-kelompok radikal tertentu. Pakailah cara itu untuk menjatuhkan rezim yang sedang berkuasa!! Bukankah kejadian Arab-Spring pada Januari 2011 yang berhasil merontokkan rezim Hosni Mubarak di Mesir juga mengikuti pola sama? Puluhan ribu tentara bersenjata lengkap dan puluhan tank berkaliber berat dibuat tidak berdaya menghadapi ratusan ribu massa yang sudah “kesetanan” berteriak-teriak di “Lapangan Kebebasan” untuk menjatuhkan Mubarak. Fenomena sama juga sedang kita saksikan di Bangkok. Puluhan ribu massa, terutama anak muda, berdemo keras menuntut mundur Perdana Menteri Prayuth Chan yang kemenangannya pada Pemilu 2019 dituduh hasil permainan curang.
 Selanjutnya