Dark/Light Mode

Etika Politik Nabi Muhammad SAW (43)

Tidak Mencari Kesalahan Orang Lain (3)

Rabu, 9 Desember 2020 04:10 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Orang bijak mengatakan: sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan orang lain maka hatinya akan buta. Sedangkan orang yang selalu sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri maka hatinya akan tenteram. Orang yang berakal adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada saudaranya, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat kepadanya.

Berita Terkait : Saling Menutupi Kelemahan

Ujaran kebencian berdasarkan agama (Religious hate speech tentu saja di dalam Islam dianggap sebagai perbuatan tercela, dan pelakunya dianggap sebagai orang yang paling buruk akhlaknya. Karenanya, sangat tidak layak untuk dilakukan walau dibalik itu ada tujuan kebaikan yang ingin dicapai. Seperti kata orang bijak: Al-gayatu la tubarriru al-wasiylah. Yang berarti: Tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara. Itulah sebabnya di dalam Islam, seorang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar harus dengan cara-cara yang santun dan lembut, tidak dengan cara membabi buta seperti mencela dengan menggunakan kekerasan dan kebencian.

Berita Terkait : Tidak Mencari Kesalahan Orang Lain (2)

Maka dari itu, dalam satu riwayat disebutkan bahwa suatu ketika Nabi diminta oleh para sahabatnya untuk mendoakan orang-orang musyrik agar mereka semuanya celaka dan sengsara. Tetapi Nabi justru mengatakan kepada para sahabat: Sesungguhnya aku tidak diutus oleh Allah untuk melaknat, tetapi aku diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat. Bahkan seorang sahabat bernama Anas bin Malik mengatakan bahwa Nabi adalah sosok yang tidak suka mencaci maki, bukan sosok yang suka berkata buruk, dan juga bukan sosok yang suka mengutuk. Bahkan Nabi pernah menegaskan bahwa: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah mengatakan yang baik atau lebih baik diam”. Allahu a’lam.