Dewan Pers

Dark/Light Mode

Terbiasa Mandiri, Anggota DPR Milenial Farah Puteri Suka Masak

Minggu, 15 Desember 2019 21:47 WIB
Farah Puteri Nahlia
Farah Puteri Nahlia

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR Farah Puteri Nahlia terbiasa mandiri. Dia mulai menerapkan gaya itu saat hidup di London, Inggris. Perempuan milenial ini mengerjakan sesuatu serba sendiri. Terutama yang berhubungan dengan makanan.

Farah bisa membuat bakso, makanan favoritnya. Di London, membuat bakso menjadi kenikmatan tersendiri untuknya. Selain bakso, Anggota Komisi I DPR ini mengaku bisa memasak menu makanan lain. Apa saja? ada opor ayam, sop buntut, ayam bumbu rujak dan menu ikan-ikanan lho...

“Penggemar berat masakan saya, ayah saya sendiri (sambil tertawa). Ayah paling suka menu ikan. Sop ikan atau ikan tumis pete,” katanya dengan semangat.

Farah mengaku membeli pete dari kawasan pecinan di Inggris. 

“Kegemaran makan ayah lah yang membuat saya belajar memasak bermacam menu makanan ikan,”akunya.

Farah juga jago membuat makanan ringan seperti kue-kuean. Selain kue, dia terampil membuat mpek-mpek. Bahannya dari ikan salmon.

Berita Terkait : Lagi, KPK Garap 9 Anggota DPRD Muara Enim

“Bukan ikan tenggiri apalagi ikan belida ya. Nggak ada di sana. Saya membeli ikan salmon di supermarket terdekat,” ujarnya.

Farah melanjutkan SMA di Inggris pada usia 16 tahun. Kemudian melanjutkan D3 di University Foundation Programme, David Game College, Inggris. Sementara, S1 dan S2 diperolehnya di Royal Holloway University of London. 

Hidup di Inggris, Farah sudah cukup dibekali pesan ‘hidup bebas yang bertanggung jawab’ oleh kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Kalau mau, seperti halnya sebagian teman SMA-nya di sana, bisa saja Farah membolos sekolah karena malas, atau karena hal lain.

“ Tinggal nitip absen sama kawan. Lagi pula saya kan jauh dari kontrol orangtua. Tapi itu tidak saya lakukan karena makna ‘hidup bebas yang bertanggung  jawab’  itu terus mengiang di telinga saya. Jadwal hidup saya pun padat,” terangnya.

Karena padat, Farah harus merancang sendiri jadwalnya. Terutama memberi waktu luang untuk membaca. Ya, perempuan berusia 23 tahun ini memang hobi membaca. “Buku setebal 300 halaman bisa saya lahap dalam tiga empat hari,” katanya.

Selain membaca, legislator dari Dapil IX Jawa Barat ini punya hobi lain. Main jetski. Saat masih bersama orang tua, sepekan dua kali dia bermain jetski.

Berita Terkait : Indonesia Jamin Keselamatan Pelayaran Di Selat Sunda Dan Lombok

Farah sangat dekat dengan orang tuanya. Baginya, ibu mengajarkan dan memberi contoh tentang kesabaran dan kasih sayang. Sementara, ayah mengajarkan dan memberi contoh tentang makna hidup dan sikap pribadi. 

Dia mengaku, hampir seluruh sistem nilai pribadinya diserap dari sang ayah. Memang, saat masih SD dan SMP, Farah merasa ayah terlalu keras mendidik, terutama soal disiplin pribadi.

“Awalnya menyakitkan sih. Kadang saya sampai menangis ditegur, dimarahi ayah. Tapi apa kata ayah saya, ‘Kamu ngga boleh cengeng meski kamu perempuan’,”ungkap Farah.

Nah, saat di perantauan, baru terasa betapa berharganya sistem nilai yang ditanam ayah pada dirinya. Dia menjadi mandiri, mudah beradaptasi dan bisa mengatur waktu agar setiap hari hidup memiliki nilai. Ayah juga yang melatihnya berani menyampaikan pendapat.

Ketika tinggal di Inggris, dia teringat kembali apa yang disampaikan ayah. Bersikaplah toleran, dan berpikirlah terbuka. Perbedaan-perbedaan itu saling memperkaya, bukan menjadi sumber pertentangan yang kontraproduktif.

Apa yang disampaikan ayah tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang Inggris maupun kaum imigran dari berbagai bangsa di sana.

Berita Terkait : KPK Dalami Pengesahan RAPBD-P

“Jadi, saat saya hidup di tengah mereka, saya merasa tidak asing dan tidak gagap bergaul, bertegur sapa dengan mereka,” ucapnya.

Satu hal lagi yang diajarkan ayahnya adalah, ‘Ingat selalu jati dirimu, agar kamu tidak asing dengan dirimu sendiri’. Itu dirasakan Farah saat bergaul dengan komunitas dari berbagai bangsa.

Sebagai anak milenial, Farah termasuk  nggak  yang macem-macem.  Misalnya soal pakaian. Meski tinggal di Inggris, dia kurang peduli soal brand. Yang penting, pakaian, alas kaki dan sedikit pernak-pernik yang dikenakannya sesuai tempat dan acara. Nggak saltum alias salah kostum. Rapih, enak dilihat dan tentu saja nyaman dipakai.[WHY]