Dewan Pers

Dark/Light Mode

Banyak Wilayah Di Ibu Kota Tergenang

Sumur Resapan Belum Sakti Taklukkan Banjir

Jumat, 7 Oktober 2022 07:30 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sumur resapan (drainase vertikal) di Jakarta, Oktober tahun lalu. Pemprov DKI Jakarta membuat ribuan sumur resapan di beberapa wilayah Jakarta sebagai langkah antisipasi banjir saat curah hujan tinggi. (Foto: Khairizal Anwar/RM).
Pekerja menyelesaikan pembuatan sumur resapan (drainase vertikal) di Jakarta, Oktober tahun lalu. Pemprov DKI Jakarta membuat ribuan sumur resapan di beberapa wilayah Jakarta sebagai langkah antisipasi banjir saat curah hujan tinggi. (Foto: Khairizal Anwar/RM).

 Sebelumnya 
Anies tak mendetailkan daerah cekung mana saja yang segera membutuhkan sumur resapan.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Marullah Matali juga mengakui sumur resapan tidak terlalu signifikan dalam mengatasi banjir. “Kita paham bahwa ini tidak secara signifikan sekali, tetapi itu tetap punya pengaruh,” kata Marullah di Jakarta Pusat, Rabu (28/9).

Marullah mengatakan, saat ini pihaknya tengah menghitung persentase dampak sumur resapan terhadap bencana banjir. Kendati begitu, dia meyakini, pembangunan sumur resapan membantu mengatasi genangan.

“Paling tidak di lingkungan lokal sekitarnya, sumur resapan sangat berpengaruh,” ujarnya.

Berita Terkait : Banyak Sumur Resapan, Perempatan ITC Fatmawati Tetap Kebanjiran

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI Justin Adrian menilai, penanganan banjir yang dilakukan Pemprov DKI tidak ada kemajuan yang berarti.

Justin menguraikan sedikitnya ada 3 jenis banjir di Jakarta. Pertama, banjir kiriman, yakni aliran air dari hulu atau dataran tinggi. Kedua, banjir lokal, yaitu banjir yang diakibatkan oleh curah hujan di DKI Jakarta yang cenderung meningkat di setiap tahunnya. Dan ketiga, banjir ROB,yang disebabkan luapan air laut di daratan pesisir.

Menurutnya, terkait banjir lokal yang diakibatkan oleh curah hujan dapat disimpulkan bahwa Jakarta bermasalah dalam hal menampung air.

“Itu karena buruknya tata kota dan jenis tanah DKI yang minim daya serap. Mengandalkan serapan air ke tanah, jelas tidak memungkinkan. Karena kecepatan dan kapasitas serapnya sulit untuk mengimbangi curah hujan yang cenderung naik,” kata Justin dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka, Rabu (5/10).

Berita Terkait : Hujan Deras, Kemang Dan Sejumlah Wilayah Ibu Kota Terendam Banjir

Justin mengaku tidak setuju jika kecepatan surut menjadi target atau prestasi yang dibanggakan. Sebab, genangan mesti tingginya hanya 50 centimeter (cm) sudah sangat mengganggu bisa merusak barang berharga milik warga.

Justin bilang, tidak adil jika warga dipungut pajak kendaraan dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Tapi, Pemerintah tidak mempedulikan kerugian warga yang diakibatkan oleh ketidakefektifan kinerja Pemprov DKI.

“Menurut saya, selama 5 tahun Pak Anies menjabat hanya menghasilkan prestasi kecepatan surut. Capaian itu terlalu murahan yang diberikan kepada warga karena seolah meniadakan kerugian material warga,” sentilnya.

Solusi andalan Anies seperti sumur resapan, lanjut Justin, semestinya hanya menjadi supporting system saja, bukan menjadi media utama penanggulangan banjir. Sebab, pengendalian banjir utama sebenarnya normalisasi sungai yang harus ada progresnya setiap tahun.

Berita Terkait : Sektor Pertanian Tangguh Hadapi Pandemi Covid-19

Sebab, menurut Justin, air hujan harus dialirkan secepatnya ke laut untuk mengimbangi durasi dan curah hujan yang tinggi. Berikutnya baru media pendukung seperti embung, sumur resapan, dan lain-lain untuk membantu menangkap air, mengurangi beban sungai dan jaringan mikro.

Dia juga mendorong perluasan pipanisasi air bersih yang selama 5 tahun ini tidak tumbuh signifikan.

“Eksploitasi air tanah dapat mengakibatkan penurunan permukaan tanah dan secara otomatis dapat menambah titik banjir di Jakarta,” tegas Justin. ■