Dark/Light Mode

MRT Sudah Dapat Mandat

Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati dan Blok M Bakal Jadi TOD Terintegrasi

Senin, 6 Juli 2020 08:31 WIB
Stasiun MRT Lebak Bulus (Foto: Istimewa)
Stasiun MRT Lebak Bulus (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT MRT Jakarta telah mendapatkan mandat untuk mengembangkan kawasan di sekitar tiga stasiun: Lebak Bulus, Fatmawati dan Blok M. Nantinya, ketiga lokasi di wilayah Jakarta Selatan itu bakal menjadi kawasan berorientasi transit dengan konsep yang berbeda-beda. 

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengungkapkan, ada empat peraturan gubernur yang memberikan mandat kepada PT MRT Jakarta sebagai pengelola kawasan berorientasi transit (transit oriented development/TOD). Yakni, Pergub 15 tahun 2020 tentang Panduan Rancang Kota dan Pergub 55 tahun 2020 membahas soal PRK di kawasan Stasiun Blok M-ASEAN. Kemudian Pergub 56 Tahun 2020 untuk Panduan Rancang Kota (PRK) di kawasan Stasiun Fatmawati dan Pergub 57 Tahun 2020 ihwal PRK di kawasan Stasiun Lebak Bulus. 

TOD di Lebak Bulus bakal menjadikan kawasan itu sebagai gerbang di selatan Jakarta. TOD Lebak Bulus telah dimulai dengan membangun jembatan atau disebut pedestrian bridge. Jembatan ini menghubungkan bangunan Poins Square dengan stasiun MRT serta lokasi parkir ojek online di transit plaza. Pejalan kaki yang hendak beranjak dari Poins Square menuju stasiun atau pangkalan ojek online dan sebaliknya, dapat memanfaatkan jembatan itu. 

Berita Terkait : PPDPP Ingin Layanan Beli Rumah Bersubsidi Terintegrasi

Sementara TOD di Fatmawati, fokus pada pengembangan kawasan dengan mengandalkan ruang atas yang dinamis. William menjelaskan, terdapat 490 ribu meter persegi kawasan yang akan dikembangkan. Terakhir menjadikan sekitar Stasiun Blok MASEAN sebagai kawasan hijau. 

Dia menambahkan, PT MRT berperan sebagai pengelola kawasan TOD. Sementara pembangunan TOD menjadi tanggung jawab anak usaha baru BUMD itu bernama PT Integrasi Transit Jakarta. Pembentukannya sudah masuk tahap akhir dan akan terbentuk awal Juli 2020. “Ini tantangan MRT Jakarta untuk melaksanakan kegiatankegiatan pembangunan dan koordinasi TOD,” jelas William.

Secara keseluruhan, PT MRT Jakarta berencana mengembangkan TOD di lima stasiun. Dua stasiun lagi adalah Dukuh Atas dan IstoraSenayan yang masih menunggu pergub PRK terbit. “Jadi sekarang ini pola pembangunan berubah. Tidak lagi di pusat kota, tetapi mengembangkan kawasan di sekitar stasiun,” tutupnya. 

Berita Terkait : Terapkan Kiat Sukses Berbisnis, Pertamina Latih 180 UMKM di Instagram

Terpisah, pengamat transportasi Muslich Zainal Asikin menilai, pelaksanaan pembangunan perlu diperhatikan. Mengingat belum adanya percontohan pengembangan kawasan TOD di Indonesia. “Yang terpenting, warga lokal atau para pedagang yang sudah lama ada di lokasi itu difasilitasi. Terutama, di stasiun-stasiun KRL yang masih kumuh. TOD ini punya potensi besar untuk meningkatkan harkat hidup mereka,” ujarnya. 

Karena itu, perusahaan pengelola mesti memiliki strategi yang apik dalam eksekusinya. Misalnya, menghibahkan sebagian ruang retail atau perumahan, bahkan lapangan pekerjaan kosong yang ada. “Di negara-negara maju, kawasan TOD itu benar-benar jadi acuan hidup. Karena pemerintah tahu betul, sebagian masyarakat punya mobilitas yang tinggi dalam menggunakan tansportasi publik. Hasilnya terlihat nanti, produktivitas dan ekonomi kawasan pasti terangkat,” tambahnya.

Sementara, PT MRT Jakarta (Perseroda) telah menyelesaikan pembangunan jembatan layang yang dibangun sejak Oktober 2019 lalu. Letaknya ada di area trotoar Jalan Kiai Maja di depan Gedung PLN Area Bulungan. Jembatan layang ini akan menghubungkan antara Stasiun ASEAN dan Halte Transjakarta CSW yang melayani bus koridor 13. Jembatan layang ini dilengkapi dengan eskalator, tangga, dan elevator/lift. Desainnya pun sudah dikoordinasikan dengan pihak terkait pembangun desain besar Simpang CSW, sehingga memudahkan saat interkoneksi dilakukan. 

Berita Terkait : Agus Marto Masuk BNI, Persaingan Bank BUMN Bakal Tambah Sengit

Meski dikerjakan selama pandemi Covid-19, tim konstruksi tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pekerjaan pun harus mengalami penyesuaian jadwal. Jumat (26/6) lalu, terlihat eskalator sedang dioperasikan sebagai bagian dari uji coba fungsi. Alih-alih menggunakan tombol tekan, lift sudah menggunakan pedal injak sesuai dengan lantai tujuan. Hal ini adalah bagian upaya dari aspek infrastruktur agar mengurangi potensi dan risiko penyebaran Covid-19. Jembatan layang ini terhubung langsung dengan area beranda peron (concourse) Stasiun ASEAN. 

Hadirnya akses jembatan layang ini semakin menambah kenyamanan dan keamanan pengguna jasa. Terutama bagi mereka yang ingin berpindah moda antara ratangga dan bus Transjakarta. Jembatan layang ini memiliki panjang 144 meter dan lebar 4,5 meter. Dilengkapi railing pada koridor dan atap dengan konsep mengoptimalkan aliran udara secara alami. Jembatan layang ini juga akan dilengkapi akses tangga, elevator (lift), dan eskalator. Tinggi dari permukaan jalan sekitar tujuh meter. Terlihat akan ada dua akses langsung penghubung dengan lingkar CSW. 

Meski telah selesai dibangun, pengguna jasa belum bisa mengakses jembatan layang ini, karena masih dalam proses penyelesaikan pekerjaan kecil. Akses masuk dan keluar stasiun layang terakhir di fase 1 ini masih menggunakan tangga, lift, dan eskalator yang sudah ada. [MRA]