Dark/Light Mode

Potong Keuntungan Ekspor Agar Harga Migor Normal

Pemerintah Utamain Kebahagiaan Rakyat

Senin, 21 Maret 2022 06:50 WIB
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (Foto: Istimewa).
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (Foto: Istimewa).

 Sebelumnya 
Saat kondisi itu coba dikendalikan dengan mekanisme HET melalui Permendang Nomor 06 Tahun 2022 pada Januari lalu, lanjut BG, ternyata yang terjadi adalah distorsi pasar. Produsen memilih menahan produksi atau menjualnya ke luar negeri karena alasan kelayakan usaha. Akibatnya, migor langka, masyarakat antre.

“Pemerintah tidak mungkin membiarkan fenomena itu. Maka kebijakan koreksi diambil. HET minyak kemasan dicabut, tapi minyak curah untuk masyarakat bawah tetap dipastikan terjangkau dengan HET Rp 14.000 per liter,” jelas BG.

Baca juga : Kurangi Beban Pertamina, Harga BBM Pertamax Diusulkan Naik

Yang harus diingat lagi, tambah BG, langkah pencabutan HET juga disertai kebijakan menaikkan pungutan ekspor kelapa sawit mentah dan produk turunannya. Aturan ini, selain akan menambah dana kelolaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk menyubsidi migor curah, juga akan membuat eksportir memilih menjual CPO di dalam negeri daripada ke luar negeri. Hal ini akan turut mendorong keseimbangan harga dalam beberapa waktu ke depan.

“Asas keadilan ditegakkan di sini,” tegas BG. Pemerintah, kata BG, menarik keuntungan ekspor untuk didistribusikan dalam bentuk subsidi minyak curah untuk masyarakat bawah dan industri kecil-menengah. Dan, yang tak kalah penting, kebijakan ini sebenarnya memotong insentif ekspor komoditi ini. Insentif yang terlalu besar ini yang mendistorsi pelaksanaan kebijakan sebelumnya.

Baca juga : Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi, Aktivis Buruh Minta Pemerintah Tindak Tegas Pemain Migor

“Dengan pengawasan yang baik dan penegakan hukum yang tegas bagi pelanggar, kebijakan baru ini bisa mengurai kisruh minyak goreng di Tanah Air,” ujar BG.

Pada prinsipnya, tutur BG, persoalan migor dan komoditas lain yang sangat fluktuatif dalam ketersediaan dan harga; serta rentan pengaruh faktor eksternal, harus dihadapi dengan pendekatan “the whole of society”.

Baca juga : Ketentuan Pemerintah Tanding Dengan Penonton, PBSI Happy

“Semua elemen Bangsa harus bermitra dan berpartisipasi menyelesaikannya,” tutup BG. [RCH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.