Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diskusi JARI 98

Presisi Polri Dipuji, Mampu Adaptasi Saat Situasi Darurat

Kamis, 9 Juni 2022 20:04 WIB
Diskusi Publik Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) bertajuk Polri Dibenci Tapi Dirindu, di Resto Hotel Bintang Baru Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (9/6). (Foto: Istimewa)
Diskusi Publik Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) bertajuk Polri Dibenci Tapi Dirindu, di Resto Hotel Bintang Baru Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (9/6). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Institusi Polri kehadirannya semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Terutama di bawah Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan slogan Presisi atau prediktif, responsibilitas, transparasi. Lewat ini, pelayanan dari kepolisian lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat, dan berkeadilan.

Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta memuji Polri di era Jenderal Listyo Sigit dengan slogan Presisi-nya. Karena kultur mulai berubah. Seperti yang terjadi di era pandemi Covid-19.

"Dalam beberapa hal Polri berada di garis depan. Di era pandemi, Polri, aparat keamanan jadi berubah petugas kesehatan. Ini contoh Polri beradaptasi terlibat dalam urusan darurat. Kita bisa memasuki fase endemi karena aparat kita semakin kompak," tegas Stanislaus.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi publik Polri Dibenci Tapi Dirindu yang diinisiasi Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) dan dipandu Ketua Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey di Hotel Bintang Baru, Sawah Besar Jakarta Pusat, Kamis (9/6).

Berita Terkait : Serbia Kagumi Indonesia Tidak Goyah Saat Situasi Sulit

Dia berpesan agar Korps Bhayangkara bisa berada digaris terdepan supaya bisa mengayomi dan semakin dicintai rakyat. Di sisi lain, adanya penangkapan Polri kelompok Khilafatul Muslimin, Stanislaus meminta Polri agar merangkul tokoh agama untuk mencegah berkembang biaknya kelompok model-model Khilafatul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sejenisnya.

"Penting merangkul tokoh agama untuk mencegah kelompok model-model Khilafatul Muslimin, HTI dan sejenisnya," ucapnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Indonesia Political Institute (IPI) Karyono Wibowo mengakui slogan Presisi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo responnya sangat positif di mata publik. Sehingga kepercayaan publik mulai tumbuh.

"Listyo Sigit sebagai Kapolri yang baru menawarkan gagasan baru di respon positif oleh publik dan tingkat kepuasan publik oleh Polri merangkak naik," kata Karyono.

Berita Terkait : WIKA-BRI Gelar Pelatihan UMKM Di Kampung Adat Prai Ijing Sumba Barat

Dia juga memberikan catatan kepada Polri pada visi Presisi dari sisi prediktif dalam hal hebohnya kelompok Khilafatul Muslimin, agar tidak ada tudingan kecolongan. "Meski prediktif ini masih belum berjalan maksimal," ujarnya.

Hal senada juga dilontarkan, Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) H. Syarief Hidayatulloh. Dia sangat mengapresiasi kinerja Polri di bawah Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam menangani Pandemi Vovid-19.

"Pak Listyo yang sudah profesional. Tetapi jangan sampai ada lagi kriminalisasi ulama. Netralitas ke depan. Diharapkan di tahun politik. Tapi saya optimistis Polri bisa semakin berubah. Semoga kualitas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat harus dijaga," sebutnya.

Di tempat yang sama, Ketua SBSI 92 Sunarti mengacungi jempol Kapolri yang kini lebih luwes. Salah satunya mau hadir di tengah-tengah massa aksi saat berdemo di Gedung DPR beberapa waktu lalu.

Berita Terkait : Hindari Praktik Penipuan Berkedok Investasi, Puan Minta Literasi Digital Diperkuat

"Kapolri di Senayan hadir berdiri diatas mobil komando, saya salut. Saya tetap apresiasi, meski juga banyak hal yang saya kritisi," pungkasnya. ■