Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kini Ada di Posisi 3, Prabowo Panik Nggak?

Senin, 5 Desember 2022 07:34 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra/Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (Foto: Dido/RM)
Ketua Umum Partai Gerindra/Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (Foto: Dido/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Elektabilitas Prabowo Subianto semakin drop. Kini, Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan itu, cuma menduduki urutan tiga, tertinggal jauh dari Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Dengan kondisi ini, kira-kira Prabowo panik nggak ya.

Anjloknya elektabilitas Prabowo ini diketahui dari hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia (IPI) yang dirilis pada Kamis (1/12) lalu. Prabowo kalah dalam berbagai simulasi.

Di simulasi 33 nama semi terbuka, Prabowo ada di urutan tiga dengan 16,1 persen. Dia tertinggal jauh dari Ganjar yang memperoleh 25,9 persen dan Anies yang punya elektabilitas 23,6 persen.

Dalam simulasi 19 nama, nasib Pranowo tidak berubah. Urutan tetap di nomor 3 dan jumlahnya pemilihnya tidak naik jauh, cuma 16,3 persen. Sedangkan Ganjar mampu meraih 27 persen dan Anies 23,7 persen.

Berita Terkait : Pemilih Prabowo Pindah ke Anies

Begitu juga dalam simulasi 10 nama capres. Ganjar teratas dengan 27,2 persen, Anies nomor dua dengan 23,9 persen, sedangkan Prabowo di nomor tiga dengan 17,8 persen.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dominasi Prabowo dalam persaingan 3 besar terjadi antara awal tahun 2020 hingga April 2022. Saat itu, Prabowo selalu ada di puncak. Namun, setelah itu Prabowo terjun bebas. Posisinya di urutan pertama digantikan Ganjar yang melesat cukup signifikan hingga 29 persen di Agustus. Elektabilitas Ganjar itu, melampaui puncak elektabilitas Prabowo di angka 27,5 persen pada periode survei November 2021.

"Sejak memasuki tahun 2022 tren Prabowo turun, bahkan di survei terakhir disalip oleh Pak Anies Baswedan," papar Burhan.

Lalu, bagaimana tanggapan Prabowo dengan hasil survei ini? Juru Bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyatakan bahwa bosnya santai saja.

Berita Terkait : Anies Masih Di Bawah Prabowo Dan Ganjar

"Bagi Pak Prabowo biasa saja. Survei biasa turun naik," kata Dahnil, kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Hitungannya, tidak ada langkah politik yang di luar jalur sehingga membuat elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu terus mengalami penurunan. Ia meyakini, seiring waktu elektabilitas Prabowo kembali menjadi nomor satu. "Insya Allah, saat ini kita on the track," yakinnya.

Ahli Peneliti Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro melihat, penurunan elektabilitas hal biasa. Kata dia, persaingan elektabilitas di lembaga survei masih sangat dinamis. Ia memprediksi, nama-nama yang muncul sepanjang tahun 2021 sampai 2022 belum tentu bisa bertahan sampai pencalonan akhir November 2023.

"Karena pada dasarnya tidak semua calon yang diunggulkan mampu menjaga elektabilitasnya. Tak tertutup kemungkinan ada yang mengalami kenaikan dan ada yang mengalami penurunan," kata peneliti senior yang akrab disapa Wiwiek ini, tadi malam.

Berita Terkait : PKS Dan NasDem Hepi

Dalam kasus Prabowo, penurunan suaranya di survei bisa dimaknai sebagai peralihan preferensi pemilih ke calon-calon pendatang baru. "Basis massa pendukung Prabowo dalam Pemilu 2019 bisa jadi mengalami diskontinuitas di 2024," imbuhnya.

Apalagi, sebut Siti, Prabowo sudah tiga kali ikut pilpres. Apalagi, saat ini masuk dalam pemerintahan dan Gerindra menjadi partai pendukung Presiden Jokowi. Realitas politik ini tidak bisa diterima sepenuhnya para pendukung Prabowo di Pilpres lalu.

"Pindahnya Prabowo ke kubu Jokowi yang awalnya adalah rivalnya, ini menjadi salah satu faktor yang ikut menurunkan animo pemilih Prabowo," paparnya.■