Dark/Light Mode

Buntut Kecelakaan Bus Di Ciater

Dinas Pendidikan Larang Study Tour

Kamis, 16 Mei 2024 07:25 WIB
Mobil derek berusaha mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww)
Mobil derek berusaha mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww)

 Sebelumnya 
Menurut Hasanah, pelarangan study tour tidak hanya didasar­kan pada aspek keamanan dan keselamatan, seperti potensi ke­celakaan di perjalanan. Kegiatan tersebut juga berpotensi mela­hirkan penyimpangan anggaran, yang menjadi profit sekolah.

Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji menyarankan, kegiatan study tour dirancang secara akademis, agar tidak mengorbankan siswa.

Menurut dia, study tour harus didesain secara akademis agar bermanfaat dan punya nilai un­tuk para siswa, bukan sekadar jualan jalan-jalannya.

Baca juga : Bos PSIS Melamar Ke Beringin Dan PSI

“Sekolah harus memahami, tu­juan study tour yang paling utama untuk pendidikan, bukan kegiatan komersial. Study tour tak boleh digunakan untuk kepentingan oknum pejabat sekolah, untuk tujuannya komersial,” tegas dia.

Di media sosial X, netizen ju­ga mengeluhkan kegiatan study tour yang cuma jalan-jalan.

Akun @Dewino24 menilai, study tour saat ini sekadar ke­giatan hiburan. “Kan kita heal­ing, main sama teman-teman satu angkatan, hiburan dari rasa stress setelah ujian. Kalau hanya itu, kenapa yang ikut nggak ikut harus bayar? Uang lebih, dipakai guru buat jalan-jalan dan nginep gratis,” cuitnya.

Baca juga : Jukir Liar Bakal Disanksi Pidana

Akun @Putrisyalala8 men­gatakan, kegiatan study tour harusnya tidak memberatkan para siswa. Tidak perlu semua siswa dipaksa harus ikut. Mau ikut silakan, nggak ikut ya nggak apa apa. Masalahnya, para guru maksa para murid harus ikut dengan alasan ini itu, sehingga study tour terkesan dibisnisin alias cari untung,” ujarnya.

Senada, akun @txtfromadri­an juga menyoroti study tour yang kerap salah kaprah. “Ada anak-anak TK diajak study tour ke luar kota, tujuannya pusat grosir. Positive thinking aja, mungkin untuk mempelajari per­tumbuhan ekonomi dan fluktuasi harga barang,” sindirnya.

Akun @arrttemiss menilai, para siswa dan orang tua kerap dipusingkan dengan iuran study tour. “Yang nggak ikut study tour wajib bayar iuran. Bahkan, ada pihak sekolah yang men­gancam, yang nggak ikut nggak akan diluluskan dari sekolah,” keluhnya.

Baca juga : Manchester City Di Atas Angin

Akun @Alfaponelo mengusul­kan, study tour hanya berupa pili­han, alias tidak wajib. Sebab, tidak semua orang tua siswa mampu membayar biaya study tour.

“Boleh ada memang iuran. Tapi, yang tidak ikut study tour tidak perlu ikut iuran, tidak perlu merogoh kocek untuk menutupi target pema­sukan panitia,” sarannya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 16 Mei 2024 dengan judul Buntut Kecelakaan Bus Di Ciater, Dinas Pendidikan Larang Study Tour

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.