Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tiap Hari Korban Nambah Ratusan

Aturan Corona Banyak Diakali

Senin, 18 Mei 2020 06:31 WIB
Di saat penerapan PSBB, tampak warga bejubel di jalanan yang  dipenuhi para pedagang kaki lima, di Pasar Tanah Abang, Minggu (17/5). (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Di saat penerapan PSBB, tampak warga bejubel di jalanan yang dipenuhi para pedagang kaki lima, di Pasar Tanah Abang, Minggu (17/5). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan virus corona di Tanah air makin mengkhawatirkan. Tiap hari, korban yang dinyatakan positif corona bertambah ratusan jumlahnya. Padahal, banyak aturan sudah dikeluarkan pemerintah untuk memotong penyebaran virus dari Wuhan itu. Warga dunia maya curiga, korban terus bertambah karena aturan corona banyak diakali.

Hingga kemarin, jumlah pasien positif corona mencapai 17.514 kasus. Naik 489 kasus dari hari sebelumnya. Sementara angka pasien yang sembuh bertambah 218 menjadi 4.129. Sedangkan yang meninggal bertambah 59 menjadi 1.148 kasus.

“Ini gambaran yang sangat tegas yang bisa kita lihat bahwa kasus penambahan, kasus baru, masih terus terjadi. Oleh karena itu, berarti bahwa kasus positif sebagai pembawa virus ini masih berada di tengah-tengah kita,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, kemarin.

Berita Terkait : Rasain, Penjual Surat Bebas Corona Palsu Akhirnya Diringkus Polisi

Pengamat kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menilai, masih tingginya angka corona tak lepas dari tidak tegasnya aturan yang dibuat. Baik pembuat kebijakan maupun masyarakat, tidak serius laksanakan aturan yang ada. Aturan justru banyak diakali. Misalnya di jalan tol, masih ada yang mengakali dengan mengisi kendaraannya dengan logistik sehingga lolos.

Di samping itu juga ada keterbatasan dari aparatnya. “Jalan arteri ini tidak pernah diawasi sehingga lolos. Jalan tikus hampir sama sekali tidak diawasi, makanya mereka tetap bisa mudik. Memang untuk mudik darat itu lebih banyak faktor kesadaran masyarakat,” kata Trubus kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Di sisi lain, koordinasi pemerintah pusat dan daerah serta antar kementerian lemah. Misalnya, larangan mudik dari Presiden Jokowi yang diturunkan menjadi Permenhub nomor 25 yang isinya larangan mudik. Lalu dalam perkembangannya, Permenhub 25 itu direvisi dengan narasi boleh melalukan perjalanan dengan syarat keluarga sakit.

Berita Terkait : Tanpa Promosi dan Degradasi, Liverpool Tak Layak Juara

Tak lama berselang, turun surat edaran dari Gugus Tugas Covid-19 nomor 4 tentang kriteria orang mudik. Nah ini menyebabkan masyarakat dan aparat menjadi bingung. “Saya amati di Terminal Pulo Gebang itu ada orang yang membawa surat keterangan RT dan RW untuk mudik. Awalnya itu boleh, tapi setelah turun aturan dari Gugus Tugas jadi tidak boleh karena aturannya ditambah surat bebas Covid-19,” sebutnya.

Di dunia maya, warganet ramai-ramai mengomentari banyaknya pelanggaran aturan corona. Mulai dari bandara yang membludak sampai masyarakat yang bejubel di Pasar Tanah Abang. “Terserah kalian ajalah, suka-suka kalian ajalah. Nyawa kalian yang punya, kalau kena corona jangan repotin petugas medis,” cuit akun@yulitasaari__.

“Berhamburan keluar rumah demi belanja lebaran, gelombang corona 2 datang, eh pemerntah yg disalahin,, gitu bebal,” timpal akun @mqrvelhoe. “Saya MENANGIS MELIHAT InI. personil PSBB,” sambung akun @Snurrozaqiyah.

Berita Terkait : Saran M Qodari, Hidup Berdamai Dengan Corona Lewat THC

“Kadang sedih, ada yang mati-matian ga keluar rumah, mati-matian nerapin physical distancing, tapi masih ada juga kaya gini:’) kapan kita selesai,” kata akun @mutiaraanisya. “Kasian buat yang taat ga mudik/pulkam dan stay at home, seolah olah “kesepakatan bersama” dikhianati ama sebagian orang, ga ada gotong royong bareng bareng lawan corona, menyedihkan....” timpal akun @krisonedi.

“Sejumlah tenaga medis menumpahkah kekesalan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kebijakan pemerintah yang “berpotensi memperluas penyebaran Covid-19” dengan menggunakan tagar #IndonesiaTerserah,” kata akun @andreasharsono. [UMM]