Dark/Light Mode

Soal Istri dan Corona

Jenderal Luhut Kirim Meme Ke Prof Mahfud

Kamis, 28 Mei 2020 07:11 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Luhut Pandjaitan)
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Luhut Pandjaitan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Guyonan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengibaratkan virus corona seperti seorang istri mendapat banyak tanggapan. Sebagian warganet menilai guyonan tersebut kurang pas, tak lucu, dan tak mutu. Sebagian lagi bilang, Pak Luhut bisa aja...

Candaan soal ini diungkapkan Menko Polhukam Mahfud MD, saat menjadi pembicara dalam acara Halal Bihalal online bersama keluarga besar Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Selasa kemarin. Di acara itu, Prof Mahfud bicara antara lain soal rencana pemerintah menerapkan new normal untuk berdamai dengan corona.

Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu kemudian menceritakan obrolannya dengan Luhut. Dia bilang, belum lama ini mendapat kiriman meme dari Luhut. Judulnya dalam bahasa Inggris. Begini bunyinya, corona is like your wife. You try to control it then you realize that you can’t. Then you learn to live with it.

“Corona itu seperti istrimu, ketika kamu mau mengawininya kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu. Sesudah itu, kamu belajar untuk hidup bersamanya. Ya sudah, sudah begitu,” kata Mahfud.

Berita Terkait : Luhut: Idul Fitri Di Tengah Corona Momentum Perkuat Rasa Persaudaraan

Menurut Mahfud, guyonan itu selaras dengan upaya pemerintah membuat kebijakan baru saat menghadapi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Saat menghadapi corona tak mungkin terus mengurung diri. “Kita menyesuaikan dengan keadaan itu, tapi tetap menja ga diri. Seperti corona ini,” ucap Mahfud.

Menurutnya, new normal adalah kondisi pelonggaran terhadap pembatasan yang sebelumnya telah berjalan. Masyarakat menyadari pembatasan sosial dan karantina wilayah yang dilakukan secara terus menerus dapat memberhentikan roda perekonomian yang semestinya tetap harus berputar.

Sejumlah aturan new normal, kata dia, telah disiapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) guna mengatur bagaimana masyarakat beraktivitas. Awalnya istilah yang akan dipakai adalah relaksasi. Namun kemudian dianggap berbahaya. Kemudian muncul juga “pengurangan pembatasan”. Intinya sama saja.

Ada dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menyebut pelonggaran itu sama bahayanya. Sama seperti pembunuhan massal. Akhirnya dibikin istilah new normal. Artinya saat akan bekerja wajib menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Namun semuanya masih dalam wacana dan kontroversi. Belum ada yang diputuskan.

Berita Terkait : Menteri Luhut Minta Legalisasi Produk Hutan Berkelanjutan Melalui SVLK

Guyonan dari Luhut ini mendapat banyak tanggapan dari pegiat dunia maya. Macam-macam tanggapannya. Ada yang menilai keterlaluan ada yang menganggapnya biasa saja.

Prof Ariel Heryanto, sosiolog yang kini tinggal di Australia menilai guyonan Luhut itu tak mutu. “Menjijikkan. Di tunggu ralatnya!,” kicaunya di akun @ariel_heryanto. Sebagian followernya mencoba menerka-nerka kenapa guyonan tersebut tak lucu.

Menurut akun @ditzme guyonan itu seksis, dan masuk kategori humor gelap. Tak pantas corona dijadikan guyonan saat masih ada orang yang meregang nyawa karena virus asal China itu. Dia teringat pernyataan pejabat di awal-awal wabah yang terkesan meremehkan dan menanggapi dengan guyonan.

“Jadi pejabat emang enak karena mendapat keistimewaan hingga bisa jaga jarak dan akses kesehatan mumpuni,” ujarnya.

Berita Terkait : Soal Pemeriksaan Said Didu, Ruhut Sitompul: Ini Baru Ronde Pertama, Tunggu Ronde Berikutnya

Sementara akun @meowleader menilai guyonan Luhut ini termasuk wajar masuk kategori humor bapak-bapak. Sering muncul dalam grup internal atau arisan. “Tapi kalau dikutip oleh media dan diberitakan, lalu di sambar oleh haters, maka hasilnya adalah caci maki dan kebencian,” ujarnya. Akun@iamyogas menilai guyonannya normal saja. “Bisa aja Pak Luhut,” ujarnya. [BCG]