Dark/Light Mode

Jawab Video Viral Ngambar Rukmi, Kemenkes: Itu Tudingan Yang Keji...

Selasa, 23 Februari 2021 21:03 WIB
Bandara Soekarno Hatta. (Foto: Istimewa)
Bandara Soekarno Hatta. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ngambar Rukmi, seorang perempuan yang baru saja tiba di Indonesia dari Rusia, mengeluhkan sejumlah hal terkait penanganan kepulangannya di masa pandemi Covid-19.

Dia membagikan pengalamannya dalam sebuah video di Instagram yang kemudian ramai di WhatsApp group. Intinya, dia merasa "di-Covid-kan" ketika tiba di Indonesia. Ngambar juga menyebut, dia "dibisniskan" karena harus membayar sejumlah hal.

Kasubdit Karantina Kesehatan, Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Benget Saragih, M.Epid membantah tudingan Ngambar Rukmi itu.

"Saya kira itu eksplisit maupun implisit, sebuah tudingan yang keji. Kami bekerja ibarat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala menjaga masyarakat terlindung dari paparan wabah," sesalnya, Selasa (23/2).

Benget yang sehari-hari berada di Bandara Soekarno Hatta itu menyebut, seharusnya Ngambar menyadari, videonya sungguh melukai perasaan para petugas.

Berita Terkait : Kemenkes Distribusikan Tujuh Juta Dosis Vaksin Untuk Lansia

"Kalau saja beliau punya sedikit empati, tentu tidak akan tega membuat video dengan pernyataan yang sangat sumir. Tidak paham prosedur, dan tidak memperhatikan fakta dan data," sesal Benget.

Benget mengungkapkan, pada tanggal kedatangan Ngambar, 16 Februari 2021, pihak hotel Hotel Wyhdham Casablanca yang dibookingnya, menjemput dengan armada Golden Bird Avanza B-2532-SRD. Ngambar tiba di hotel pukul 20.00 untuk registrasi dan pembayaran, sebelum masuk kamar 1202.

Keesokan harinya, pukul 14.00 dilakukan PCR Test pertama oleh petugas lab dari PRVKP -Universitas Indonesia (UI). Tanggal 18 Februari 2021 di hotel tersebut. Pukul 17.40, hasil PCR keluar.

Dari 24 yang melakukan tes hanya satu yang positif, yaitu atas nama Ngambar Rukmi, nomor paspor X347110 dengan tanggal kelahiran 29 Oktober 1989. Surat itu ditandatangani penanggung jawab pemeriksaan, Dr. dr. Budiman Bela, Sp.MK (K) dan diketahui supervisor pemeriksaan Fathurrohim, S.Pd, M.Biomed.

Nyatanya, Benget membeberkan, banyak Warga Negara Asing (WNA) dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang dinyatakan positif Corona meski membawa hasil swab tes PCR negatif.

Baca Juga : Peningkatan Literasi Digital Perlu Didukung Keterampilan Berpikir Kritis

Benget menyebut, sejak 17 Maret 2020 hingga 19 Februari 2021, tercatat 574.665 orang yang masuk dari luar negeri. Yang melalui Bandara Soekarno-Hatta tercatat 304.437 orang. Disusul Pontianak (75.856), Medan (58.952), dan Juanda Surabaya (31.625).

Dari jumlah itu, yang tercatat positif Covid-19 sebanyak 3.219 orang. Terbesar masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta sebesar 2.265, disusul Juanda Surabaya 618 orang dan Denpasar 297 orang.

Artinya, risiko pendatang dari luar negeri membawa virus Corona, nyata. "Khusus catatan sejak tanggal 28 Desember 2020 hingga hari ini (23/2) terdapat 1.345 orang positif Covid-19. Dari jumlah itu, WNI-nya 1.210 orang dan WNA-nya 135 orang," beber Benget.

Terpisah, Tenaga Ahli BNPB Egy Massadiah menyebut, video yang dibuat Ngambar membuat Satgas Penanganan Covid-19 kehilangan waktu.

"Banyak yang share ke saya, otomatis jawab satu satu, sambil melacak kebenarannya. Sialnya, orang yang men-share mempercayai itu tanpa memahami konteksnya secara utuh," keluh Egy.

Baca Juga : PLN Pulihkan 99 Persen Kelistrikan Terdampak Banjir Di Jabar

Kalau dibiarkan pulang ke rumah, para pendatang yang positif Covid-19 ini bisa menulari keluarganya. "Kalau rentan, terus wafat. Maka dia adalah pembunuh potensial," tegasnya.

Menurut Egy, Kepala Satgas Doni Monardo menyesalkan Ngambar yang mengupload video itu. Sejak pertama menonton, Doni disebutnya sama sekali tidak percaya dengan video tersebut.

"Tetapi standarnya, beliau tetap meminta klarifikasi. Check and recheck ke para petugas di lapangan. Hasilnya, keyakinan beliau bahwa video itu ngawur, memang ngawur," ungkap Egy.

Dalam pernyataan Ngambar, terdapat kalimat yang menjurus ke delik. Apakah akan ada langkah hukum terhadap wanita itu? Egy belum bisa menentukan.

"Kita lihat nanti, setidaknya orang seperti ini wajib mendapat hukuman sosial karena sudah melukai perasaan anak anak bangsa yang tengah berjibaku menahan laju pandemi," jawabnya. [OKT]