Dark/Light Mode

Melihat Lebih Dekat Alutsista Indonesia

Sabtu, 8 Mei 2021 13:00 WIB
Peneliti Institute For Security And Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi. (Foto: Istimewa)
Peneliti Institute For Security And Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Secara kekuatan, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, alat utama sistem senjata (alutsista) yang kita miliki memang bisa dibilang cukup tangguh. Tapi dari segi kemampuan menangkal ancaman, penegakan keamanan dan kedaulatan negara, kita jelas masih belum dan sedang terus berupaya untuk mencapai kekuatan minimum yang dibutuhkan. Contohnya alutsista kapal selam. Indonesia adalah negara kepulauan. Perairan teritorial kita begitu luas. Ada tiga alur laut yang harus dijaga keamanannya. Tidak melulu perairan dangkal. Sebagian di antaranya merupakan perairan yang begitu dalam. Artinya, kita tidak bisa hanya mengandalkan patroli di atas permukaan laut. Apalagi perairan kita ini juga diramaikan juga oleh berbagai aktivitas baik legal maupun ilegal di bawah permukaan laut.

Jadi untuk kepentingan pertahanan bawah laut, kita membutuhkan kapal selam. Kapal selam adalah salah satu alutsista unggulan bagi Angkatan Laut. Dia memiliki efek deteren atau kemampuan penangkalan dan penghadangan yang paling tinggi. Dan kita setidaknya memerlukan 12 kapal selam untuk mengamankan perairan ini. Idealnya memang 25 kapal, namun nyatanya sampai hari ini kita baru mampu memiliki lima kapal, termasuk KRI Nanggala-402 yang tenggelam ini dan KRI Cakra yang seusia.

Dapat dipahami jika peran kapal-kapal berusia lanjut itu belum bisa digantikan perannya dan masih harus terus beroperasi. Dengan demikian, maka semua alutsista yang ada kemudian harus dioptimalisasi. Nyaris tak ada kesempatan berleha-leha bagi alutsista kita. Tak peduli tua atau muda, semua harus bekerja keras mengamankan Tanah Air kita. Kita juga tak bisa hanya bicara persoalan belanja alatnya saja. Kita juga harus bicara tentang logistik, pemeliharaan alat, juga soal kesejahteraan dan pengembangan kecakapan personel penggunanya.

Berita Terkait : Pemuda Peduli Kemajuan NKRI: Jangan Memancing Di Air Keruh!

Upaya modernisasi alutsista sebenarnya sudah dipetakan melalui Minimum Essential Force (MEF) atau Kebutuhan Pokok Minimum yang dicanangkan pemerintah sejak 2007. MEF dibagi ke dalam beberapa tahap dengan jenjang waktu lima tahun. MEF tahap I dimulai pada 2010-2014, tahap II 2015-2019, dan tahap III 2020-2024. Harapannya MEF sudah dapat dipenuhi 100 persen pada 2024. Namun ternyata ditemukan bahwa terjadi pelambatan pada capaian MEF tahap II. Pada 2019, seharusnya MEF sudah mencapai target 75,54 persen. Namun pada realitasnya, MEF yang dapat dipenuhi baru sekitar 63,19 persen.

Sementara itu, perkembangan pemenuhan target MEF sepanjang tahap II bisa dibilang minim. Pada 2014, MEF berada pada 54,97 persen. Artinya, dalam kurun waktu lima tahun pemenuhan alutsista hanya meningkat sebesar 8,22 persen. Dari catatan, capaian MEF paling rendah terjadi di TNI Angkatan Udara. Pemenuhan alutsista di TNI AU hanya 45,19 persen. Sementara TNI Angkatan Darat 78,82 persen, dan TNI Angkatan Laut 67,57 persen.

Menhan Cari Solusi

Berita Terkait : Bu Sri, Duitnya Ada?

Persoalannya, anggaran kita belum mampu menjawab kebutuhan itu sepenuhnya. Maka kemudian Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya mencari solusi atas persoalan anggaran dan bagaimana menjawab kebutuhan modernisasi dan peremajaan alutsista itu dengan cepat.

Sebagai Menhan hari ini, Pak Prabowo ditinggali banyak 'pekerjaan rumah' yang berkaitan dengan rencana belanja dan kerja sama alutsista yang belum tuntas dari periode-periode sebelumnya. Menhan Prabowo Subianto belakangan ini juga gencar berkeliling dunia dalam rangka diplomasi pertahanan guna mencari alat utama sistem persenjataan alias alutsista. Usaha ini diharapkan akan membuahkan dan meningkatkan kerjasama militer dengan negara-negara sahabat.

Salah satu tujuan Prabowo adalah untuk memperkuat dan memodernisasi alutsista melalui penjajakan kemungkinan pengadaan dari negara produsen alutsista, terutama yang tidak bisa dipenuhi industri pertahanan dalam negeri maupun melakukan penawaran yang mampu diproduksi industri pertahanan dalam negeri kepada negara konsumen lainnya. Setidaknya, sejak awal tahun 2021 hingga kini, Prabowo telah melakukan kunjungan diplomasi pertahanan ke Inggris, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan. Kunjungan yang terus akan dilakukan itu membahas negosiasi terkait rencana-rencana sebelumnya, selain juga terus membuka wacana terkait tawaran, minat maupun komitmen baru terkait kebutuhan alutsista dan instrumen pendukungnya.

Berita Terkait : HMI Dukung Prabowo Modernisasi Alutsista

Kunjungan yang dilakukan telah menghasilkan rencana-rencana kerja sama strategis menyangkut pengadaan dan pengembangan alutsista seperti pesawat tempur, tank dan kapal selam, kerja sama pendidikan dan latihan, maupun berbagai rencana strategis lainnya. Dari sana tampak bahwa pemerintah sedang sangat serius mengupayakan pemenuhan kebutuhan alutsista dan meningkatkan kemampuan para personel militernya.

[Oleh : Khairul Fahmi, Peneliti Institute For Security And Strategic Studies (ISESS)]