Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Salah satu buktinya, Ketua PPLN Kuala Lumpur adalah Agung Cahaya Sumirat. “Kalau mereka (petugas PPLN) dari Aparatur Sipil Negara (ASN), netralnya di mana?” ujarnya di Kantor Bawaslu, Jakarta, Jumat (5/4).
Basri kahwatir tidak transparannya sistem perekrutan PPLN di Malaysia menimbulkan konflik kepentingan untuk kemenangan caleg tertentu. Sebab, anak Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Rusdi Kirana, Davin Kirana juga ikut di Pileg 2019.
Davin tercatat jadi caleg Partai Nasdem di Dapil II DKI Jakarta. Dapil itu meliputi Kota Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri.
Baca juga : Inilah Teriakan Pilot Ethiopian Airlines Jelang Jatuh
“Ini nggak menuduh. Ini cuma curhatan, agar teman-teman Bawaslu bisa melihat secara jernih persoalan ini,” jelas caleg DPR nomor urut 7 untuk Dapil II DKI Jakarta.
Dia lantas mempertanyakan mengapa KPU tak merekrut WNI di Malaysia yang tidak punya konflik kepentingan di luar lingakaran KBRI atau KJRI. Apalagi, jumlah mereka di Malaysia cukup banyak. “WNI di Malaysia saat ini sekitar 1,1 juta jiwa.
Makanya kami keberatan (kalau PPLN dari KBRI atau KJRI). Karena banyak orang Indonesia di sana, banyak dosen, banyak pedagang,” jelasnya.
Baca juga : Penajam Paser Utara Kini Sudah Dialiri Jargas
Basri mengaku melaporkan dugaan jual beli suara di Malaysia. Hal ini diketahui Basri lantaran dirinya maju sebagai caleg Dapil II DKI yang meliputi wilayah luar negeri. “Saya melaporkan data begitu banyak penawaran jual beli suara, utamanya di Malaysia,” jelasnya.
Menurut Basri, jual beli suara terjadi melalui perantara kepada caleg. Perantara kebanyakan adalah WNI yang bekerja di Malaysia. Diduga, satu suara dihargai 15-25 ringgit.
Hal ini tergantung dari jumlah suara ditawarkan, dari 20.000-50.000 suara. Laporan jual beli suara juga pernah dilaporkan pendiri komunitas Foreign Policy Community of Indonesia, Dino Patti Djalal.
Baca juga : Ma’ruf Amin Ajak Masyarakat Jangan Golput
Dino menduga ada calo suara di Malaysia. Hal itu mungkin terjadi karena masih banyak wilayah perkebunan di Malaysia dengan pengawasan terbatas. Para calo ini menawarkan satu suara di Dapil II DKI kepada para caleg seharga 15-50 ringgit. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya