Dark/Light Mode

Dirjen IKP: Milenial Pemilih Cerdas Untuk Perubahan

Selasa, 10 Nopember 2020 15:17 WIB
Dirjen IKP Kemkominfo Prof Widodo Muktiyo (Foto: Istimewa)
Dirjen IKP Kemkominfo Prof Widodo Muktiyo (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mahasiswa adalah pemilih yang sehat dan cerdas. Karena itu, mereka harus menunjukkan perannya dalam Pilkada 2020.

Demikian ditegaskan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Prof Widodo Muktiyo dalam Webinar bertema “Memilih Pemimpin Ideal di Mata Milenial” yang dilakukan dalam rangka Sosialisasi Pilkada 2020, Selasa (10/11).  “Mahasiswa jangan menganggap tidak punya peran untuk perubahan,” katanya.

Menurut Widodo, mahasiswa sebagai golongan intelektual harus mampu memberikan edukasi, baik kepada lingkungan terkecil keluarganya, masyarakat, maupun lingkungan yang lebih luas lagi. Edukasi dalam kaitan Pilkada 2020, antara lain menyebarluaskan pemahaman dalam alam demokrasi ini tentang pemimpin terpilih adalah cerminan rakyat. “Pemimpin ideal adalah tipe harapan yang bisa menampung aspirasi masyarakat, termasuk dari kelompok milenial,” katanya.

Berita Terkait : HNW: Pilkada UntukĀ Menguatkan NKRI

Ia berharap, kelompok milenial dengan pemerintah bersama-sama melawan hoaks yang belakangan ini marak beredar di media sosial (medsos). Widodo melihat, ancaman baru keutuhan Indonesia saat ini adalah propaganda yang terjadi di medsos. 

Dalam webinar yang diikuti lebih  100  mahasiswa  dari berbagai perguruan tinggi itu, Widodo menyampaikan data pengguna internet Indonesia yang mencapai 175 juta alias 64 persen persen dari jumlah penduduk dan akses medsos sebanyak 160 juta alias 59 persen. “Ini kekuatan baru yang menjadi harapan sekaligus ancaman,” katanya.

Internet maupun medsos, lanjut dia, mampu memengaruhi pikiran manusia secara massal, dalam waktu singkat, dengan biaya yang murah dan sulit dilacak. Meski demikian, hal tersebut sekaligus menjadi ancaman, berupa provokasi, agitasi ataupun propaganda.  

Berita Terkait : Jargon Dan Tagline Tak Laku

Ada banyak cara yang dilakukan pemerintah dalam menangani ancaman hoaks di medsos. Mulai dari penegakan hukum sampai edukasi publik. Literasi digital berupa edukasi dan pemberian wawasan kepada masyarakat terkait pemanfaatan internet dan medsos juga dilakukan.

“Milenial harus melawan hoaks. Mahasiswa bisa menjadi direktur medianya sendiri. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang bisa memproduksi konten, mengkonsumsi, dan mendistribusinya,” kata Widodo.

Webinar ini juga menghadirkan Peneliti Perludem Bidang Partisipasi Kaum Muda dan Teknologi Pemilu Nurul Amelia dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ismail Cawidu. Menurut Nurul, ada beberapa pandangan milenial tentang pemimpin yang ideal. Antara lain, milenial cenderung menolak pemimpin tunggal, anti pemimpin yang berlatar belakang kasus korupsi dan kekerasan seksual. “Milenial suka pemimpin yang komunikatif di medsos,” katanya.

Baca Juga : Wapres: Islamophobia Harus Dilawan, Harus Jadi Bahan Introspeksi

Ismail Cawidu berpendapat, bukan alasan lagi bagi milenial untuk tidak mengenal calon kepala daerah. “Itu asalan kuno. Karena sekarang, dengan mudah kita bisa mencari tahu siapa calon yang akan dipilih melalui medsos,” ujarnya. [USU]