Dark/Light Mode

Utang Tembus Rp 6.000 Triliun

Kami Langsung Nembak

Rabu, 16 September 2020 07:55 WIB
Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) saat menbacakan deklarasi beberapa waktu lalu. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) saat menbacakan deklarasi beberapa waktu lalu. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

 Sebelumnya 
Kabar soal utang yang makin menggunung langsung disambar pentolan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Said Didu. Dia geleng-geleng kepala melihat laju penambahan utang pemerintah.

Melalui akun Twitternya @msaid_ didu, dia mengatakan, besar utang luar negeri pemerintah sudah lima kali lipat dari pendapatan negara dalam setahun. Dia memprediksi, utang tersebut akan bertambah lagi sekitar Rp 2.000 triliun pada akhir 2020 dan 2021.

Staf khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo, melalui akun Twitternya @prastow langsung membalas kicauan Didu. dia bilang, yang akan bayar utang itu memang pemerintah. Kok dikaitkan dengan pendapatan negara? “Oh iya, pendapatan negara 2019 rp 1.957 T, kalau 5 kali berarti Rp 9.785 T?” ujarnya sambil menyisipkan emoticon nyengir.

Berita Terkait : Tumbuh Melambat, Utang Luar Negeri Kita Tembus Rp 6.085,91 T

Said balas berkomentar. Menurut dia, pendapatan negara tahun depan diprediksi anjlok lantaran pandemi. “Perkiraan saya, pendapatan negara tahun 2020 mungkin hanya sekitar Rp 1.400 - Rp 1.500 triliun,” kicaunya.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (indef), Didik J Rachbini juga mengritik kondisi utang luar negeri yang terus menggunung. Ia juga mengkritisi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia yang cenderung lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga.

Per 11 September 2020, SBN 10 tahun di Indonesia menawarkan imbal hasil 6,97 persen. Sedangkan di waktu yang sama, yield surat utang 10 tahun di Filipina hanya 3,1 persen, Singapura (0,93 persen), Malaysia (2,64 persen), dan india (6,04 persen).

Berita Terkait : BRI Salurkan Rp 30 Triliun Dana PEN Dalam 1,5 Bulan

Menurut Didik, nilai imbal hasil yang cukup tinggi ini kelak akan menjadi ‘palu godam’ bagi presiden mendatang. “Mohon maaf dalam bahasa saya, pe me rintah ini sudah ugalugalan soal ke bijakan utang,” kritik Didik.

Didik menyebut pemerintah telah terperangkap dalam jerat utang yang berbahaya. Bunga utang akan menjadi bola salju yang terus bergulung dan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Tahun ini saja, bunga utang Indonesia telah mencapai Rp 338,8 triliun atau setara 17 persen dari APBN 2020.

Kebijakan utang yang ugal-ugalan ini, katanya, juga menyebabkan Debt Service Ratio (DSR) Indonesia turut terkerek naik menjadi 29,5 persen. angka ini telah melewati batas aman DSR yang ditetapkan IMF sebesar 25 persen. Artinya jumlah utang indonesia kini sudah masuk pada tingkat waspada.

Berita Terkait : Cadangan Devisa Agustus Tembus Rp 2.019 Triliun

Kondisi makin mengkhawatirkan jika melihat Keseimbangan Primer (KP) yang tahun ini dipatok minus Rp 700,43 triliun. Ini artinya, negara harus membayar utang dengan utang lagi sebesar angka defisit tersebut. Dalam kata lain, gali lubang tutup lubang. [BCG]