Dark/Light Mode

Driver Ojol: Tarif Rp 3.000 Per Kilo Harga Mati

Minggu, 24 Maret 2019 06:13 WIB
Driver Ojol. (Foto: Net)
Driver Ojol. (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presidium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia Igun Wicaksono menegaskan, usulan tarif ojol sebesar Rp 3.000 per kilo meter (km) merupakan harga mati. "Kita sudah mentok Rp 3.000 kotor, atau Rp 2.400 bersih," tegas Igun kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Angka itu, lanjut Igun, sudah bentuk legowo para driver. Karena, usulan Rp 4.000 per km. Kemudian, direvisi menjadi Rp 3.500 per km, dan akhirnya turun lagi menjadi Rp 3.000 per km.

Igun mengungkapkan, alotnya pembahasan karena Kemenhub menawarkan tarif jauh di bawah permintaan pengemudi yakni Rp 2.000 per km bersih hingga Rp 2.800 per km kotor. Sementara aplikator mengajukan skema tarif Rp 1.600 dengan potongan per km.

Baca juga : Tarif MRT, Pasnya Berapa Ya...

Igun pede tarif sebesar Rp 3.100 hingga Rp 3.500 per km tidak akan mempengaruhi minat penumpang gunakan ojol. Penurunan kemungkinan terjadi hanya sementara saja pada saat pengumuman tarif.

Setelah itu akan berangsur-angsur normal. Karena pasar bersifat dinamis. Penumpang akan tetap gunakan jasa ojol karena transportasi ini praktis. Igun menjelaskan, pihaknya menginginkan Rp 3000 per km bertujuan untuk menutupi biaya operasional pengemudi secara layak. Karena, tarif yang berlaku saat ini masih sangat minim.

“Karena perang tarif antar perusahaan aplikasi, tarif makin turun di angka Rp 1.200 hingga Rp 1.600 per km. Akibatnya tidak ada ruang bagi kami driver ojol untuk merawat kendaraan operasional. Hal ini tentu berdampak pada keselamatan,” jelasnya.

Baca juga : Anies: Tarif MRT dan LRT Nggak Mungkin Gratis

Bagaimana jika permintaan tidak dikabulkan? Igun menerangkan, pihaknya akan berembuk dengan kelompok pengemudi se-Indonesia untuk menentukan langkah selanjutnya. Menurutnya, banyak mitra driver sudah jengkel dengan penetapan tarif yang alot.

Hal itu bisa dilihat dari sekelompok driver di Surabaya yang melakukan aksi turun ke jalan menuntut tarif yang layak. Igun menegaskan, pihaknya sebisa mungkin akan mencegah terjadinya aksi turun ke jalan. Hal itu sebagai bentuk komitmen pihaknya mengikuti imbauan Kemenhub.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Christiansen FW Wagey mengusulkan, pemerintah agar meminta aplikator untuk menurunkan potongan dari ojol. "Sebenarnya masalah tarif sederhana. Kenapa tidak meminta aplikator yang mengurangi potongan 20 persen? Itu paling mungkin dilakukan. Karena biaya operasional ojol tidak bisa dikurangi. Apakah bensin bisa dikurangi? Apakah biaya sparepart bisa dikurangi?" tuturnya.

Baca juga : BKS Soal Tarif Ojol, Mau Cepat Atau Selamat?

Sementara itu, aplikator ojol Grab mengusulkan agar tarif untuk ojol sebesar Rp 2.000 per km. Hal tersebut menimbang studi tim independen Grab.

Menurut studi, menunjukkan sebanyak 71 persen konsumen hanya mampu menoleransi kenaikan pengeluaran sebanyak Rp 5.000. " Konsumen hanya mampu mentoleransi kenaikan pengeluaran kurang dari Rp 5.000. Dengan demikian, dengan jarak tempuh rata-rata konsumen sebesar 8,8 km per hari, berarti kenaikan tarif yang ideal adalah maksimal Rp 600 per km atau maksimal naik menjadi Rp 2.000 per kilometer," kata

Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno dalam keterangan tertulis, Jumat (22/3). Oleh sebab itu, Tri meminta regulator mengatur tarif secara bijaksana sehingga dapat menjaga sumber penghidupan yang berkesinambungan bagi mitra pengemudi, sekaligus tetap mempertahankan kualitas layanan, kenyamanan berkendara, dan keselamatan konsumen. [KPJ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.