Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris Jadi Wirausaha Lewat Program PEKA
- PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Tausiah Politik
Sebelumnya
Kesimpulannya pada akhirnya yang berbenturan adalah nilai-nilai yang berperadaban dan nilai-nilai yang “anti peradaban”. Dengan memakai bahasa agama antara “cahaya” dan kegelapan. Antara “hidayah” dan “kesesatan”.
Klaim peradaban masa kini menumbuhkan ragam paradoks dalam kehidupan manusia. Semakin manusia merasa berilmu, semakin nampak karakter kebodohan itu. Semakin maju dalam dunia materinya, semakin pula manusia jauh dari kepuasan hidup.
Baca juga : Hidup Rukun Atau Saling Benci
Semakin maju perangkap komunikasi, semakin rentang terjadi “miskomunikasi” di antara manusia. Paradoks demi paradoks itu terjadi dalam segala skala kehidupan manusia.
Semakin banyak senjata diproduksi untuk keamanan, semakin terasa ketidakamanan dalam hidup. Kenapa yang demikian itu terjadi? Karena yang diyakini sebagai peradaban saat ini sesungguhnya bukan peradaban. Nilai-nilai yang diusung sebagai pilar peradaban itu justru memporak-porandakan peradaban manusia.
Baca juga : Semua Konsep Islam Bernuansa Global
Imam Shamsi Ali ; Presiden Nusantara Foundation, Imam Islamic Center New York, Direktur Jamaica Muslim Center, New York, Pendiri Pondok Pesantren Di AS, dan Diaspora Indonesia di Kota New York.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.