Dark/Light Mode

Buku Indonesia di Persimpangan Jalan

Minat Baca dan Menulis Dukung Hadirnya Media yang Hebat

Rabu, 11 September 2019 14:40 WIB
Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando sedang berbicara (kanan) didampingi Irna Permanasari (moderator), Linda Poernomo dan Yusuf Susilo Hartono (Istimewa).
Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando sedang berbicara (kanan) didampingi Irna Permanasari (moderator), Linda Poernomo dan Yusuf Susilo Hartono (Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia sedang berada di persimpangan jalan dalam menyerap informasi. Teknologi bergerak cepat dan informasi selalu berubah, sehingga berimbas serius pada media cetak, minat baca dan tulis.

Hal di atas merupakan benang merah dari pemaparan yang disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando, Direktur Komunikasi PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono dan Guru Besar Universitas Moestopo (Beragama) Prof Dr Budiharjo dalam diskusi bertema Korelasi Minat Baca dan Minat Menulis Bacaan  di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/9).

Minat Baca
Beberapa survei menyebut minat baca bangsa kita rendah. Faktanya, hasil survei yang lain menunjukkan orang Indonesia menghabiskan waktu 8 jam lebih sehari untuk membaca media sosial (you tube, instagram, facebook) dan chating. 

Berita Terkait : Dialog Budaya Indonesia-Prancis Lewat Lukisan dan Tari

“Maka, diperlukan upaya menyadarkan masyarakat agar waktu 8 jam sehari itu, sebagian untuk membaca buku,” harap Yusuf.

Tentang media cetak, Yusuf melihat bahwa media online merupakan jalan kesinambungannya. Diingatkan bahwa buku juga menghadapi tantangan sebagaimana media cetak dengan hadirnya e-book. 
"Kita perlu sinergi gerakan agar minat baca dan menulis bacaan bisa seiring," kata Yusuf.

Buku
Diskusi itu merupakan rangkaian dari Peluncuran Buku berjudul Linda Poernomo dari Presenter ke Parlemen Berjuang Untuk Rakyat. Pada kesempatan itu Syarif Bando mengharapkan minat baca datang dari anak sekolah. Contohnya, di luar negeri anak sekolah diwajibkan membaca 23-24 buku dan kemudian dipresentasikan sebelum kelulusan.

Berita Terkait : Terima Fee 10 Persen Dari Proyek Pembangunan Jalan, Bupati Muara Enim Jadi Tersangka

"Di Indonesia nol. Tidak ada kewajiban itu," tambahnya. Tentang penerbitan buku Syarif menyebut, Indonesia berada di posisi bawah, 60 di antara dari 61 negara. Indonesia setiap tahun menerbitkan 7-8 juta buku, Malaysia 10 juta, Jepang 44 juta dan Amerika 100 juta buku.

Format Ganda
Buku Linda yang diterbitkan dalam dua bahasa Indonesia dan Inggris dengan format ganda e-book dan  dilakukan melalui asosiasi dengan penerbit internasional yang menyediakan fasilitas direct publishing.

 ”Direct publishing, murah, mudah dan mendunia, sekaligus mengajak kita juga bisa menulis dalam bahasa Inggris, sehingga bacaan kita juga diminati secara global,” tegasnya.

Berita Terkait : Akan Diperiksa Terkait Kasus Korupsi Pembangunan Jalan, Anak Buah Cak Imin Mangkir

Linda mengungkapkan bahwa dirinya rajin menerbitkan buku, karena ingin secara aktif merangsang minat baca dan minat menulis bacaan.

Menulis bacaan itu akan menambah ketersediaan bahan bacaan. Selain itu, Linda sejak dilantik menjadi wakil rakyat menjalankan mobil pustaka yang memberikan layanan perpustakaan keliling di daerah pemilihannya. [SRI]