Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bicara Amplop Di KPK

Ketum PPP Singgung Perasaan Kiai

Jumat, 19 Agustus 2022 07:30 WIB
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa. (Foto: ANTARA).
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa. (Foto: ANTARA).

 Sebelumnya 
Suharso menyebut, fenomena ini masih terjadi hingga saat ini. Menurutnya. jika sehabis pertemuan tidak ada amplop, itu terasa hambar. Suharso mengaku tengah membenahi hal ini.

“Kalau kami ketemu di sana, itu kalau salamanya itu nggak ada amplopnya, Pak, itu pulangnya itu sesuatu yang hambar. This is the real problem that we are fixing today,” ungkap mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut.

Mendengar penyataan Suharso itu, Aktivis dan Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Sholeh Basyari langsung berang. Menurutnya, cerita Suharso itu telah menghina para kiai. “Saya sangat mengecam cerita Suharso tersebut. Apa maksudnya itu? Di depan para Komisioner KPK dan pada acara pembekalan antikorupsi,” cetus Sholeh, dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, menyinggung soal ‘amplop kiai’ di acara KPK, sama saja Suharso menarik kesimpulan kalau itu sebagai sikap bakal korupsi. “Mana adabnya kepada kiai? Ketum partai Islam, tidak hormat pada kiai,” tegas dia.

Berita Terkait : Soal Geger Amplop, Ketum Suharso Justru Ingin Memuliakan Kiai

Sholeh meminta Suharso segera meminta maaf dan menarik ucapannya itu. Dia mengancam, bersama aktivis NU yang lain akan membawa masalah ini ke jalur hukum. “Pasti, jika ada unsur-unsur pidana yang bisa diterapkan, kita akan buat laporan. Karena ini sudah menyinggung marwah serta martabat kiai dan pesantren,” ancamnya.

Protes juga datang dari ulama kondang yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Miftah Maulana Habiburrahman, alias Gus Miftah. Dia bilang, pernyataan Harso telah menghina marwah kiai dan pondok pesantren.

“Dalam khazanah pesantren ada istilah tabarukan, yaitu ngalap berkah yang dilakukan oleh seorang santri atau jamaah kepada kiai, dengan salah satu caranya adalah silaturahmi atau sowan kepada kiai,” tulis Gus Miftah, seperti dilihat dari akun Instagram-nya, @gusmiftah.

Dia menjelaskan, dalam silaturahmi biasanya santri atau jemaah minta doa atau nasihat atas problem yang dihadapinya. Kata dia, tak ada permintaan kiai kepada para santri dan jamaah kalau silaturahmi harus kasih amplop atau apapun.

Berita Terkait : Pasca Irjen Sambo Ditahan, AKP Rita Sudah Berani Main Medsos

“Kalau toh ada, itu justru inisiatif dari santri atau jamaah yang sifatnya sukarela sebagai rasa mahabbah seorang santri kepada kiai,” paparnya.

Lebih lanjut, menurutnya, sudah lazim para tokoh politik memanfaatkan kiai hanya untuk kepentingan politiknya. Jadi, pekik dia, selama ini kiai hanya terkesan dimanfaatkan. “Kalau butuh, mereka sowan kiai, selesai butuhnya kembali meninggalkan kiai,” tutur Gus Miftah.

Ulama muda NU itu lantas meminta agar bos PPP itu segera mengklarifikasi omongannya dan menyampaikan permintaan maaf langsung. Bagi Gus Miftah, omongan Suharso menyakitkan.

“Saya sebagai santri yang biasa sowan kiai untuk tabarukan dan ngalap berkah meminta Anda untuk klarifikasi dan minta maaf!!” tuntut ulama kondang yang berseliweran di kalangan para selebriti itu.

Berita Terkait : Wakil Ketua DPRD Tulungagung Ditahan KPK

Mendapat berbagai kecaman, PPP angkat bicara. Wakil Ketua Umum PPP, Arsul Sani meminta maaf atas pernyataan bosnya yang telah bikin gaduh. Dia berjanji, ke depannya, PPP akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. “PPP akan lebih berhati-hati atau ikhtiyat dalam berucap dan bertindak ke depan, agar tidak terulang lagi,” kata Arsul.

Wakil Ketua MPR itu menyebut, pidato bosnya tidak bermaksud merendahkan atau menghina para kiai. Namun, apa yang disampaikan bosnya itu tentang hadiah atau pemberian kepada kiai itu membuka ruang penafsiran merendahkan para kiai.

“Tidak boleh lagi ‘terpeleset’ atau ‘slip of tounge’ menyampaikan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kontroversi, resistensi atau kesalahpahaman di ruang publik,” tambahnya. ■