Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sambo-Putri Peluk Cium Sebelum J Ditembak

Adegan "Dewasanya" Kok Nggak Nongol Ya...

Rabu, 31 Agustus 2022 07:37 WIB
Tersangka Irjen Ferdy Sambo (baju tahanan) didampingi Istrinya Putri Candrawati saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir J di rumah Dinas Ferdy Sambo di kawasan, Duren Tiga, Jakarta, Selasa (30/8). (Foto: Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka)
Tersangka Irjen Ferdy Sambo (baju tahanan) didampingi Istrinya Putri Candrawati saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir J di rumah Dinas Ferdy Sambo di kawasan, Duren Tiga, Jakarta, Selasa (30/8). (Foto: Putu Wahyu Rama/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Drama polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J, akhirnya sampai juga ke tahap rekonstruksi.

Selama 7,5 jam, lima tersangka; Ferdy Sambo (FS), Putri Candrawathi (PC), Bharada E, Bripka Ricky Rizal (RR) dan Kuat Ma’ruf (KM), memperagakan aksinya.

Dari 78 adegan yang diperagakan, sayangnya tidak ada sesi adegan 'dewasanya'. Yang ada, cuma adegan FS peluk cium PC sebelum peristiwa penembakan terhadap J.

Rekonstruksi pembunuhan terhadap J memang jadi momen yang ditunggu-tunggu sejak 1,5 bulan kasus ini mencuat ke publik, dan bikin geger.

Tingginya antusias itu, membuat rekonstruksi disiarkan secara live lewat kanal YouTube Polri. Mungkin, ini pertama kali dalam sejarah, rekonstruksi kasus pembunuhan sampai disiarkan secara live.

Sejak pagi, sejumlah TV nasional juga sudah sibuk melaporkan persiapan rekonstruksi. Padahal, rekonstruksi baru dimulai pukul 10.00 WIB.

Rekonstruksi digelar di 3 lokasi berbeda yang dianggap sebagai tempat kejadian perkara (TKP). Mulai dari rumah FS di Magelang, Jawa Tengah, Jalan Saguling III, Pancoran, Jakarta Selatan dan rumah dinas di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Namun, agar rekonstruksi berkesinambungan, 78 adegan hanya dilakukan di 2 TKP saja. Di Saguling dan Duren Tiga. Untuk TKP di Magelang, lokasinya diganti di Saguling.

Selain 5 tersangka yang dihadirkan secara langsung, rekonstruksi juga melibatkan tim eksternal Polri sebagai pengawas. Mulai dari Komnas HAM, Kompolnas, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta 20 unsur Kejaksaan.

Dari 78 adegan, tidak semua diperankan langsung oleh 5 tersangka. Ada beberapa adegan yang seharusnya diperagakan E, tapi diwakilkan oleh peran pangganti. Hal ini berdasarkan permintaan LPSK, agar E tidak langsung dikonfrontir dengan FS.

Berita Terkait : Pak Hakim, Kenapa Nggak Vonis Mati..?

Sesi pertama adalah adegan yang menggambarkan peristiwa di Magelang. Namun, adegan ini direka ulang di rumah pribadi FS di Saguling.

Ada 4 tersangka yang mengikuti reka adegan di sini, yakni PC, RR, KM dan E. J yang tewas dalam kasus ini, diperankan oleh pemeran pengganti.

Salah satu adegan yang diperagakan, PC sedang berbaring di sebuah ruangan. Di ruangan terpisah, KM juga terlihat berbaring.

Di rumah Magelang, juga menampilkan reka adegan pemeran J ikut berbaring. Tak lama, PC RR, E, KM, dan J secara bergantian. Beda dengan yang lain, J dalam posisi duduk di bawah saat berada di ruangan dengan PC.

Di ruangan berbeda, terjadi perbincangan antara RR dan E. Keduanya terlihat memegang senjata. Setelah itu, RR membawa senjata tersebut, untuk meninggalkan rumah Magelang.

Ada empat tersangka yang secara bersamaan meninggalkan rumah Magelang untuk pulang ke Jakarta, yakni PC, KM, E dan RR.

Rekonstruksi kemudian berlanjut ke tersangka FS. Adegan ini berlangsung di rumah pribadi FS, di Jalan Saguling III.

Pada salah satu adegan, FS sempat berada dalam satu ruangan dengan PC. Mereka duduk bersebelahan di salah satu sofa.

Saat itu, FS terlihat memegang handy talkie (HT) di tangan kanannya. Kemudian memperagakan adegan berbicara lewat HT.

Rupanya, adegan Sambo memegang HT itu untuk memanggil RR. Posisi FS masih duduk bersama PC di lantai 3.

Baca Juga : Erick Datang Sebagai Seorang Ayah

RR yang sedang berada di lantai 1 lalu naik ke lantai 3 menggunakan lift. Sesampai di lantai 3, RR langsung menemui FS.

Ada pembicaraan yang disampaikan Sambo kepada RR, tapi dalam tayangan rekonstruksi tidak diperdengarkan. Selesai bertemu berdua, RR lantas turun ke lantai 1 menggunakan lift.

Setelah itu, RR memanggil E untuk menemui FS. Keduanya pun berbincang dalam posisi berdiri, dengan jarak yang dekat.

Usai bertemu dengan para anak buahnya, FS sempat memeluk Putri. Setelah itu, FS kembali memperagakan memegang HT. Disusul PC meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah Putri meninggalkan lokasi, rekonstruksi berlanjut ke adegan selanjutnya. Namun, kali ini tersangka diperankan oleh orang lain.

Adegan berlanjut saat PC, J, E dan RR hendak berangkat dari rumah Saguling ke TKP penembakan di Komplek Polri Duren Tiga.

Di dalam mobil, PC duduk di sebelah sopir. Sedangkan J dan RR duduk di kursi tengah. E masuk ke mobil, dan duduk di bangku paling belakang sebelah kiri. Mobil kemudian bergerak ke Duren Tiga.

Di mana FS? Rupanya, eks Kadiv Propam itu menyusul dengan kendaraan lain. Menariknya, di momen ini, tangan kiri FS dibalut sarung tangan berwarna hitam.

Saat keluar dari kabin mobil, Sambo memperagakan adegan pistolnya jatuh. Seorang saksi Brigadir Romer, sempat menghampiri untuk mengambil pistol tersebut. Tetapi langsung didahului FS.

Saat semua tersangka lengkap di dalam rumah dinas, RR memanggil J yang sedang istirahat di pekarangan untuk diajak masuk ke rumah. Momen ini merupakan detik-detik terakhir J sebelum dieksekusi.

Baca Juga : Jaksa Bidik Kiprah Korporasi

Rekonstruksi berlanjut pada momen J mohon-mohon sebelum ditembak E. J saat itu langsung berhadapan dengan E yang sudah ancang-ancang menghabisi nyawanya.

FS, RR dan KM juga ada di tempat yang sama. Bahkan, FS sempat mencekik J, sebelum E melepaskan tembakan.

Setelah J dipastikan tewas, FS mendekatinya dan mengambil senjata J untuk menembak dinding. Agar terkesan telah terjadi baku tembak antara E dan J.

Usai rekonstruksi, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Dedy Prasetyo memberikan penjelasan. Kata dia, rekonstruksi dilaksanakan dengan transparan. Sesuai arahan dan komitmen dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

"Hari ini, kita sudah melaksanakan kegiatan rekonstruksi. Berlangsung kurang lebih sekitar 7 jam setengah,” kata Dedy, di depan rumah dinas Sambo.

Dedi menambahkan, dalam rekonstruksi ini diperagakan 78 adegan. Mulai dari peristiwa yang berlangsung di Magelang sebanyak 16 adegan, Saguling 35 adegan, dan Duren Tiga 27 adegan.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian ikut memberikan penjelasan. Kata dia, dari puluhan reka adegan, pihaknya belum mendapati benang merah dari kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap J.

"Jangan bicara benang merah, tapi adanya benang hitam," tandas dia, mengistilahkan.

Menyoal perbedaan keterangan tersangka saat aksi penembakan J, Andi Rian mengatakan, itu tak berarti penyidik mencatat adanya dua keterangan.

"Bukan ada dua versi. Keterangan E (Eliezer) dan FS, memang ada yang tidak sesuai. Silakan masing-masing mempertahankan. Nanti kita faktakan di pengadilan," tukas dia. ■