Dark/Light Mode

Menunggu Kabar Suka Cita

Selasa, 25 Oktober 2022 06:39 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada dua berita duka, kemarin. Pertama, dari Malang. Kedua, dari Bogor. Dua berita duka tersebut menempatkan rakyat sebagai korban.

Pertama, bertambahnya korban Tragedi Kanjuruhan. Namanya Farzah Dwi Kurniawan Jhovhanda. Dia menjadi korban meninggal ke 135! Ini bukan jumlah yang kecil. Bukan sekadar angka atau statistik.

Baca juga : Ginjal Rakyat, Wajah Kita

Selama dua minggu Farzah yang mengalami trauma di kepala dan paru-parunya, hidup menggunakan ventilator. Di RSUD Saiful Anwar Kota Malang, nafasnya berakhir.

Kabar kedua, bertambahnya korban meninggal akibat gagal ginjal akut. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, ada 245 yang terkena. Tersebar di 26 provinsi.

Baca juga : Satunya Kata Dan Perbuatan

“Persentase angka kematiannya cukup tinggi: 141 kasus atau 57,6 persen,” kata Menkes seusai rapat terbatas di Istana Kepresidenan Bogor, Senin, kemarin.

Kasus-kasus ini menempatkan rakyat sebagai korban. Sedangkan mereka yang bertanggungjawab, tak ada yang mengundurkan diri. Bahkan, seorang pengurus sepakbola seperti menantang: “ngapain mundur!”.

Baca juga : Siapa Musuh Kita?

Kamis (20/10) pekan lalu kita membaca kabar dari Inggris. Menteri Dalam Negeri Inggris, Suella Braverman, mundur dari jabatannya. Penyebabnya sepele: karena salah kirim email. Dia menggunakan email pribadinya untuk mengirim dokumen resmi kenegaraan kepada rekannya. Tidak ada korban jiwa.

“Saya telah melakukan kesalahan. Saya bertanggung jawab. Saya mundur,” tulis Braverman dalam surat pengunduran dirinya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.